2 Minggu Berjalan Riset di Taiwan
Malam ini agak berbeda dari biasanya. Aku sekarang berada di Louisa Coffee, sebuah kafe murah cabang dekat MacKay Memorial Hospital. Kafe ini akan tutup dalam 45 menit.
Tidak terasa sudah hampir sebulan aku berada di Taiwan. Hampir 2 minggu dihabiskan untuk persiapan dan registrasi, lalu 2 minggu sudah perjalanan riset ku di National Taiwan University berjalan. Banyak yang ingin aku tuangkan dalam tulisan ini. Tetapi akhir-akhir ini aku begitu disibukkan oleh orientasi awal semester. Belum lagi, aku begitu terpaku pada puluhan jam podcast dari Bagus Muljadi yang selalu aku dengarkan dikala waktu senggang. Akibatnya, tulisan tertunda lagi, hahaha.
Aku telah bertemu Alice (asisten dari Professor Lee) dan beberapa rekan researcher lain. Professor menempatkan aku di kelas dan lab bersama Master Student (S2), walau sebenarnya aku adalah mahasiswa S1.
Professor Lee adalah orang yang sangat efisien. Ia begitu kritis, tegas, sibuk, dan tidak menerima pertanyaan bodoh. Dalam berkolaborasi dengannya, aku diharuskan proaktif dan cari jawaban sampai ujung baru boleh bertanya. Sebelumnya, aku berangkat dari kultur kerja Eropa selama bekerja di 5 tahun terakhir ini. Kedua kultur timur dan barat bertabrakan dalam kepalaku. Dalam retrospeksi riset 2 minggu belakangan ini, aku bisa lihat secara induktif dari apa yang akan aku lakukan kedepan. Akan kujelaskan di tulisan ini.
Dari segi skill teknikal, aku belajar cukup banyak. Terutama dalam pemrograman Java yang sangat populer, old school, dan enterprise. Namun, di tulisan ini, spesifiknya untuk 2 minggu pertama, aku ingin membedah apa yang aku pikirkan secara personal dan bagaimana cara membangun rongga kosong dalam hati dan pikiranku, dan membuat garis imajiner pada perspektifku untuk tetap bisa tumbuh.
---
Professor sering marah kepadaku karena sering bertanya pertanyaan yang bodoh.
Sejauh ini yang sudah terjadi, dalam konteks pertanyaan bodoh adalah:
- Pertanyaan yang sudah ada jawabannya tetapi aku tidak cukup jauh untuk menemukannya sendiri.
- Pertanyaan untuk klarifikasi / konfirmasi ulang. Karena pertanyaan itu sudah dijawab, kenapa masih ditanya lagi?
- Pertanyaan yang memicu miskomunikasi seperti parafrase asumsi, makna yang hilang dalam terjemahan (karena komunikasi dengannya dalam otakku adalah Bahasa Indonesia -> Bahasa Inggris -> Bahasa Mandarin), dan seperti pertanyaan pada point 1 dan 2.
Aku yang dulu pasti akan semakin malu bertanya. Aku yang dulu pasti akan mencampur adukkan hal tersebut dengan label keseluruhan bahwa aku tidak kompeten. Namun aku belajar soal "Pembatasan Perspektif" yang dikemukakan oleh Alif, seorang teman lamaku. Hal ini menjadikanku tidak berhenti bertanya, walau rasa kecewa karena tidak dimengerti masih ada. Aku terus meningkatkan kualitas berpikir kritis, dan itu akan mempengaruhi kualitas pertanyaan.
Pembatasan Perspektif ✨
Dalam metode ini, Alif membagi dirinya sendiri bukan sebagai 1 entitas, tetapi 4.
- Alif sebagai personal.
- Alif sebagai pelajar.
- Alif sebagai pekerja.
- Alif sebagai teman.
Ada batas imajiner dalam dirinya. Ketika sesuatu terjadi pada dirinya, ia dengan cermat memetakan bagian "Alif yang mana" yang merasakan hal itu.
Dalam metodologi kerangka perangkat lunak, hal ini disebut Microservices. Dimana satu entitas aplikasi sebenarnya terbagi dalam banyak service kecil yang terisolasi. Apabila satu service error atau down, ini tidak akan membuat keseluruhan sistem rusak.
Hal ini sangat powerful bagiku. Kecelakaan bisa terjadi dimana saja, tetapi tidak menggenelarisir bahwa manusia itu adalah kegagalan.
"Aku sedang belajar dan dikritik karena kesalahan sebagai pelajar, namun itu tidak menggenelarisir bahwa aku tidak kompeten".
Berpikir Abu-Abu
Berpikir abu-abu adalah usaha berpikir untuk secara tidak hitam dan putih / baik dan buruk / malaikat dan setan. Ini masih sedikit terkait dengan pembatasan perspektif. Aku berusaha menerima bahwa aku adalah manusia yang kompleks, tidak ter-kotakkan seperti di film murahan dimana terlihat sangat kontras antara si jahat dan si baik. Aku adalah manusia yang abu-abu tempat dimana pengetahuan dan kebodohan berada secara bersamaan. Tempat dimana ketidaktahuan dan kompetensi bisa berada secara bersamaan.
Mengenal orang lain dan budaya lain sebagai abu-abu berdampak pada bagaiman aku melihat diriku sendiri. Hal ini sangat mempengaruhi pandanganku terhadap toleransi dan imajinasi.
Pada satu episode podcast Bagus Muljadi di kanal Suara Berkelas, saya ingin mengkutip kalimat beliau.
"Berpikirlah (betapapun menyeramkannya dan tidak nyamannya itu) jawaban alternatif dari apa yang sudah anda yakini".
Kutipan tersebut mengubah pandanganku tentang cara melihat orang di setiap negara berbeda yang kukunjungi.
---
Di NTU, aku mengobservasi mahasiswa yang mengayuh sepedanya, tukang bersih-bersih, orang tua yang berlalu-lalang. Aku benar-benar melihat masa depan Taiwan sedang dibangun di kampus ini. Di Taiwan, murid paling pintar masuk ke kampus ini. Jurusan andalannya berada di bidang kesehatan, teknologi, dan semikonduktor. Dengan 2400 lebih hak paten aktif, menjadikan kampus ini Top 100 di US Patent Ranking di tahun 2023 yang menandakan berbagai kebijakan dan inovasi telah lahir dari kampus ini.
Statusku disini adalah mahasiswa non-degree. Selain dari Professor Lee, segala hal yang aku lakukan disini tidak akan dinilai. Akupun tidak diwajibkan dan tidak diharuskan untuk bergabung ke kelas lain. Aku berkeliling ke tiap bangunan dan ruang kelas di NTU. Begitu banyak pembelajaran yang sedang berlangsung. Semuanya menggodaku untuk duduk dan bergabung sebagai mahasiswa yang tidak ada bedanya dengan mahasiswa degree lainnya.
Walau sudah diperingatkan untuk tidak bergabung di kelas lain, namun dengan bukti izin berupa email dari beberapa dosen yang aku reach out supaya aku bisa bergabung di kelasnya, aku nekat belajar. Aku bergabung dengan kelas bahasa mandarin 3 kali seminggu, juga berbagai kelas wajib untuk mahasiswa S2.
Untuk kelas wajibnya sendiri adalah kelas Software Engineering Design (SED) yang diajar langsung oleh Professor Lee. Sejujurnya, jika bisa memilih, dari semua kelas yang ada di gedung ini, gaya mengajar dari Professor Lee bukanlah yang menarik untukku pribadi. Sampai sekarang, aku belum ada kesempatan untuk bertemu dengannya. Kelas diadakan online kecuali ujian dan kuis, kalau offline pun beliau akan selalu hadir via google meet. Kelas akan selalu diselenggarakan dalam bahasa mandarin.
Suatu hari, aku benar-benar berusaha untuk memecah setiap informasi yang disampaikan dalam bahasa mandarin itu dengan conversation mode di aplikasi translator hapeku. Namun karena komputasi translasi memerlukan waktu, akan ada delay sekian detik sebelum terjemahan tersebut muncul. Aku kebingungan dan di hari berikutnya ia mengkritikku karena tidak bertanya. Manalah aku bisa bertanya kalau kesempatan bertanyapun ditawarkan dalam bahasa mandarin.
Disini aku belajar untuk mendengarkan keyword yang cukup penting, yang menandakan bahwa aku bisa berkesempatan bicara.
有问题吗(yǒu wèntí ma)= "Apakah ada pertanyaan?"
Minggu ini juga baru terjadi kasus dimana aku tidak mendapat informasi soal file tambahan untuk mengerjakan kuis. Alhasil, dalam 3 jam, aku mengerjakan kuis dengan metode yang berbeda dan salah. Aku segera email langsung ke Professor Lee. Ia kemudian memerintahkan salah satu mahasiswa riset nya untuk membantuku dan aku harus mengerjakannya lagi selama 3 jam. Format kuisnya begitu tidak jelas dan tidak terstruktur sebagaimana dalam project management dalam industri. Tapi aku langsung mencoba untuk menyelesaikannya selama 3 jam lagi.
---
Aku juga reach out dan berharap bisa bergabung minggu ini ke beberapa club / ekskul. Bicara soal club di NTU, aku belajar seberapa bebas berpikirnya mahasiswa disini dengan kultur sedemikian rupa. Ada club agamis seperti belajar injil dan budha. Ada club olahraga seperti panahan, lari, dan mountain climbing. Ada club seni seperti musik, tari, dan melukis. Ada club boardgame seperti catur dan go. Sampai club paling aneh sekalipun seperti BDSM, dan tari api.
Pada akhirnya, aku bergabung dengan club catur dan volunteer berbahasa mandarin. Aku juga menikmati pertunjukan dari welcome concert di club guitar fingerstyle. Aku sebenarnya tertarik ikut ke club fingerstyle juga, tetapi mereka mengharuskan aku memiliki gitar sementara aku sudah punya 3 gitar akustik dan klasik di Indonesia.
---
Yah.. seperti itulah update 2 minggu belakangan ini. Aku berharap proses yang penuh tekanan dan pembelajaran ini mendorongku sambil menggandeng tanganku dan tidak terlalu keras memukulku. Aku sangat looking forward untuk mengikuti segala prosesnya sampai program riset ini selesai.