Aku Yang Selalu Membenci Alasan Pahit
Gak tau mau nulis dari mana. Asal nulis aja seakan-akan aku sedang duduk dan bercerita ke laptopku yang baterainya 45% ini sambil dengerin lagu-lagu John Mayer yang di-cover KoWrites dengan alunan piano klasiknya. Di atas kasur, di sudut kamar kos.
Aiiihh kesel bet sama batuk ini. 3 bulan gak sembuh-sembuh. Ditambah biduran pula. Masih gak tau ini alergi apa. Waktu itu udah cek ke klinik. Dikasih obat sama dokternya, katanya kalau batuknya masih berlanjut, silahkan datang untuk kontrol lagi. Obatnya udah habis, tapi batuknya belum juga sembuh. Di hari aku mau cek lagi, tiba-tiba aku kecelakaan yang membuatku tidak bisa berjalan selama seminggu. Obat batuk yang baru saja habis berubah jadi obat pereda nyeri dan antibiotik. Hari ini, semua obat itu sudah habis. Setelah 2 minggu, aku harus kontrol lagi.
---
Akhir2 ini banyak yang bikin freak out. Masalah keluarga. Penyakit sialan. Soal gagal kuliah lagi tahun ini. Soal karir. Dan satu-satunya orang yang menjadi tempat aku cerita, tempat paling nyaman, tempat yang paling aku percaya.. Dia pergi begitu saja. Yang membuatku takut untuk mempercayainya lagi.
Aku tidak tahu apa yang aku cari sekarang. Tetapi menulis ini benar-benar membantuku merapihkan pola pikirku dan bisa memahami diri sendiri lebih dalam lagi.
---
Aku sangat menyayangi keluargaku. Didikan baik dan buruknya yang membuatku menjadi seperti sekarang. Keluarga adalah hal yang paling penting melebihi segala apapun di dunia. Ini menyangkut hal yang sangat berpengaruh pada setiap orang yang hidup. Aku telah merasakan dan menyaksikan di sekitarku keluarga yang menikah, berpisah, menikah lagi, menikah sirih. Bingung ini siapa, itu siapa. Dengan berbagai masalah yang tidak ada habisnya.
Rasanya aku ingin stop semuanya dan membangun keluarga terbaik yang pernah ada suatu saat nanti. Aku gak mau itu terjadi kepada semua orang yang aku sayang di masa depan nantinya. Aku paling takut dengan perpisahan yang sebenarnya hal itu bisa tidak terjadi. Aku gak mau semua keturunanku kebingungan dengan silsilah keluarganya sendiri. Aku gak mau semua keturunanku merasakan pahitnya kehidupan hanya karena keegoisan orang tuanya yang buta karena cinta, tapi tidak punya ilmu yang cukup untuk mendidik dan bertanggung jawab. Aku gak mau semua keturunanku memiliki keluarga yang tidak lengkap.
Aku sudah berusaha mandiri, kuat, menjadi contoh yang baik, berprestasi, bisa belajar banyak hal dalam kondisi apapun ditengah pesimistis, keterbatasan fasilitas, dan dukungan yang tidak ada. Tetapi sepertinya masalah yang unlimited itu selalu menjadi fokus utama daripada sebuah potensi yang baik. "Mindset dan mental" adalah masalahnya. Keluarlah dari pikiran sendiri.
---
Soal dia yang pergi begitu saja. Aku tidak pernah merasakan perasaan seperih ini dalam hidupku. Rasanya sama kuatnya seperti jatuh cinta, tetapi ini adalah rasa patah hati. Adalah konsekuensi ku karena mencintainya terlalu dalam sehingga membuatku jatuh terlalu dalam juga.
Seminggu setelah dia pergi, rasanya aku ingin meledak. Aku mengalihkannya dengan mendaki 2 gunung sekaligus, pergi motoran ke Lombok, motoran keliling Bali, pergi ke pantai, air terjun, dan semuanya. Di sepanjang perjalananku, aku menemukan banyak sekali hal baru, bertemu orang-orang baru, dan mendapat banyak sekali nasihat.
Rasa patah hati ini juga mempengaruhi kinerja ku di kantor. Aku bercerita soal ini kepada Human Resource di kantor. Dan entah dari mana semua orang kantor mengetahuinya dan bertanya-tanya kepadaku. Aku gak nyangka sepeduli itu mereka kepadaku. Mereka mau mendengar, memberi nasihat, menghibur, dan mengajakku pergi.
---
Sepertinya sudah berkali-kali aku tulis di blog ini tentang alasan dia pergi. Ini adalah soal 'hubungan yang bukan muhrim', soal 'mendekati zina', dan soal 'dosa dan maksiat'.
Hal ini mengingatkanku kepada cerita salah satu designer marketing di kantor, Kak Qilla. Dia cerita kalau suaminya dulu pernah berpacaran selama 6 tahun dengan seseorang. Namun dengan sepihak, ceweknya mengakhiri hubungan setelah membaca buku "Udah Putusin Aja!" karya Ustadz Felix Siauw. 6 tahun adalah waktu yang lama. Suaminya Kak Qilla sempat memohon ke cewek itu namun cewek itu mengirim link ke buku "Udah Putusin Aja!" via DM instagram dan bilang, "coba kamu baca buku itu". Kak Qilla cerita kalau dulu juga suaminya sempat kebingungan, seperti "kenapa harus begini? kenapa tiba-tiba? kenapa sepihak?".
Aku berpikir, kenapa gara-gara satu buku bisa seperti itu? Mungkin saja ada alasan lain yang sangat kompleks. Namun sekarang, jika memang cewek itu percaya betul soal "jodoh sudah ditakdirkan tuhan, lepaskan saja dia", semoga saat itu dia tabah melihat pada akhirnya mantannya itu menikah dengan orang lain, Kak Qilla. Dan semoga dia juga mendapat yang lebih baik.
Dalam cerita hidupku ini. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Kesan terakhir aku dan dia sudah sangat tidak enak. Saat dia meminta tanggapanku setelah dia ingin menyudahi semuanya, sempat keluar juga kata-kata dari mulutku yang membuat kita terasa semakin jauh saja. Aku seharusnya menolak ketika dia memintaku bicara secara langsung di kondisi aku seperti itu. Aku menyesal, cukup saat itu saja aku merasa aku menyakitinya.
Dalam segala perspektif, sejak awal aku tahu bahwa sebenarnya alasan dia memang tidak ada yang salah sama sekali. Sesering itu aku merenung dan mencoba berfikir dari sudut pandang dia. Bisa jadi ini bukan karena aku benci alasan agama, tetapi aku benci perbuatan/cara dan ego dia sendiri. Setelah apa yang kita lalui, setelah apa yang aku lakukan, setelah apa yang dia ucapkan, tetapi musti berakhir dengan kesepihakan. Memblokir nomorku, membatasi pembicaraan, membatasi pertemuan, dan menghilang. Seakan-akan aku telah membawanya kepada dosa yang sangat besar. Yang mana dia juga tahu, aku tidak pernah mencoba melukai perasaannya, dan berbuat yang macam macam.
Mungkin kasarnya, dia seperti bilang kayak ini, "Kalau kamu serius dengan aku, tidak usah dekat seperti ini. Buktikan keseriusan itu bila tiba waktunya nanti! Kalau tidak bisa, aku tidak melarang kamu untuk cari yang lain".
Apakah hal itu salah? Tidak, itu adalah hak dia. Yang aku pikirkan adalah bagaimana dia tidak memikirkan keberadaanku disini. Dia berdebat dengan pikirannya sendiri tanpa mau berdiskusi. Dia yang tidak pernah percaya kepadaku. Dia yang selalu ragu akan hubungan ini tapi tidak pernah mau bicara kepadaku. Dia yang tidak memikirkan arti dari ucapannya sendiri. Setelah perjalanan panjang yang kita lalui sejak SMP, disudahinya begitu saja secara tiba-tiba dan sepihak, disaat semua baik-baik saja tanpa pernah ada masalah dan keributan. Sekarang aku adalah satu-satunya orang yang dijauhinya, tanpa pernah berfikir bagaimana caranya bisa bertemu dan dekat lagi.
Aku sempat berpikir suatu hal yang tidak sempat aku sampaikan kepadanya. Dia sudah memutuskan dengan tegas. Dia siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Dia gak papa kalau aku hilang kepercayaan kepadanya. Dia bilang terserah kalau aku mau anggap dia apa. Intinya adalah, dia sudah siap dan dia tidak apa-apa. Semua adalah tentang dia. Tetapi aku bagaimana? Aku harus apa setelah ini?
Ketika kita masih bersama dulu, dia pernah bilang bahwa banyak hal yang aku lakukan untuknya adalah bodoh. Walau aku yakin ada sisi dimana dia senang juga. Dia bilang aku terlalu baik dan mendukung bila aku jadi nakal sekali-kali. Entah obrolan apa yang membawa kita ke percakapan seperti itu, tetapi aku yakin itu adalah candaan yang berdasarkan realita saja. Karena dia tidak tahu rasanya disakiti, dan dikhianati dalam sebuah hubungan. Semoga itu tidak pernah terjadi.
Tetapi, hal itu menjadi hal yang membuatku meragukan diriku sendiri sekarang.
---
Sebulan setelah dia pergi, masalah lain datang bertubi-tubi. Aku tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi bersamaan.
Aku ingat, dia pernah bilang, "kalau sekali kalinya kamu ngerokok lagi dan nyobain alkohol di Bali, jangan pernah kenal aku lagi". Tetapi sebulan setelah dia pergi, aku melakukannya. Aku kembali merokok dan untuk pertama kalinya mencoba arak. Walau hal itu tidak aku teruskan, tetapi setidaknya aku pernah. Semakin aku sadar bahwa dia berjalan ke kanan, aku ke kiri. Jika dia mengetahuinya, mungkin saja dia tidak mau menerimaku lagi. Aku juga masih takut untuk percaya dengannya. Semua semakin jelas bahwa kita semakin jauh. Momen-momen sebelum dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan tidak akan pernah sama, sekalipun diulang.
---
Aku banyak menerima nasihat soal ini dari teman, orang asing, dan bahkan guruku. Hal yang paling aku ingat adalah ketika bulan lalu pas aku mudik lebaran ke lampung, aku bersilaturahmi ke rumah mantan wali kelasku waktu SMP dulu. Guruku itu adalah orang yang mengenal kami berdua. Dan ini yang dia katakan.
Guruku: "Nak, kalaupun banyak hal yang kamu anggap gak masuk akal, setidaknya biarkan dia menenangkan dan memperbaiki dirinya sendiri. Kalau memang jodoh, pasti akan kembali. Tapi, kalaupun bukan, gak papa. Kamu akan bertemu yang terbaik"
Aku: "Tapi miss, bukannya semua itu harus disertai usaha juga? Posisinya sekarang adalah dia yang menjauh dengan kesan terakhir yang tidak baik."
Guruku: "Betul. Dan usaha yang harus kamu lakukan adalah tetap menjadi orang baik. Biarkan dia berjalan ke kanan, tetapi kamu harus tetap lurus. Kalau dia ke kanan kamu ke kiri, maka akan jauh selamanya. Usaha yang harus kamu lakukan sekarang adalah buktikan kalau kamu bisa jadi orang yang bermanfaat. Lepas kekhawatiran kamu tentang dia. Coba fokus ke diri kamu sendiri. Siapapun yang akan memiliki kamu di masa depan pasti adalah orang terbaik. Bisa jadi jodohmu adalah dia di versi yang lebih baik, atau orang lain yang lebih baik lagi."
---
Bertahun-tahun masalah keluarga yang tidak pernah selesai. 4 bulan sudah orang yang aku sayang pergi. Aku tidak tahu kenapa hal ini harus terjadi, tetapi mungkin aku pantas menerimanya.
Sekian lama hal ini mengganggu ku. Pikiranku sering kosong, dan setiap malam pikiranku selalu penuh sehingga tidak bisa tidur.
Aku yang selalu membenci alasan pahit. Pikiranku dipenuhi rasa benci kepada diri sendiri. Terkadang aku benci menjadi terlalu baik. Secara otomatis, aku selalu memikirkan keburukan yang terjadi kepadaku, tanpa menyadari bahwa sebenarnya aku adalah orang yang beruntung. Aku bersyukur karena kedua orang tuaku masih hidup. Aku bersyukur karena aku masih punya tempat untuk pulang. Aku bersyukur karena mengenal dia yang sudah pernah baik kepadaku, pernah menjadi tempat ternyaman untukku. Dia telah tegas dengan pendiriannya dan tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Aku bersyukur karena banyak situasi yang mengarahkanku menjauh dari batasan.
Suatu malam, selepas ibadah. Huhh, sudah lama sekali aku tidak menangis dalam do'a ku sehabis shalat. Aku hanya meminta jawaban, dan aku membuka diriku untuk menerima jawaban itu dengan mencoba peka dengan segala hal. Aku meminta supaya aku diselamatkan dari diriku sendiri.
Aku menyadari bahwa aku disini punya kebebasan, punya fasilitas, punya uang, dan punya masalah. Yang mana itu bisa sangat berbahaya jika tidak ada yang menolongku. Dan satu-satunya musuh dan harapanku adalah diriku sendiri.