Salah satu wishlist kembali terwujud. 17 Agustus 2022, berhasil kurayakan di puncak gunung agung 3142 mdpl. Aku melihat bahwa gunung ini menjadi tempat paling mengerikan untuk didaki bahkan untuk orang-orang bali. Mereka lebih memilih gunung batur di kintamani yang lebih pendek dan yang paling terkenal. Dan memang benar, dari ke-7 gunung yang sudah aku daki, gunung agung adalah yang paling tinggi dan sulit sejauh ini.

Ada beberapa hal yang mendasariku untuk ingin sekali berada di dataran tertinggi pulau bali ini. Salah satunya adalah berbagai kejadian yang merubahku selama beberapa bulan sebelumnya. Kecelakaan motor 2 kali dalam sebulan, rasanya gak mau naik motor lagi selamanya. Badan, kaki, tangan luka2, dan ada beberapa keretakan di jari kaki & leher. Tentunya gak lebih parah daripada temenku yg tulangnya patah dan kepalanya bocor karena gak pake helm. Habis 2 minggu untuk berurusan sama rumah sakit & kepolisian. Seketika nyali buat naik motor hilang, gak berani lagi berkendara ngebut, atau bahkan pergi sejauh Bali ke Lombok, atau Bali ke Jakarta lagi.

2 bulan kemudian, aku mendaki gunung agung, gunung tertinggi di Bali. Tujuan dari pendakian ini pastinya untuk kembali ngelawan rasa takut, penyembuhan nyali yang hilang dan juga merayakan 17an kayak di gn sindoro waktu itu.

Aku mendaki gunung agung tepat sehari setelah aku nonton konser musik besar di pantai mertasari bali. Sebuah pengalaman pertama kali yang sangat menyenangkan. Seakan rasa capek belum menyentuh badanku setelah berjam-jam melompat menikmati musik, besoknya aku masih harus ke kerja ke kantor, lalu besoknya lagi mendaki gunung.

---

16 agustus 2022, aku masih melakukan packing untuk barang yang akan kubawa mendaki. Barang yang kubeli beberapa hari sebelum pendakian itu adalah sleeping bag dan sepatu, dan lampu. Sisanya yang sudah aku punya adalah tas, baju, dan obat. Aku akan mendaki bersama beberapa teman baru yang kukenal dari forum pendaki bali di facebook. Sebelumnya kita kenalan dan membuat grup di whatsapp setelah itu.

Kita janjian bertemu jam 11 siang di basecamp. Perjalanan kesana dari kosku memakan waktu sekitar satu setengah jam. Jam 9 pagi, aku sudah menerima telepon.

"Bang, jadi kan naik? Ini temen-temen udah sampe semua"

"Iya, jadi bang. Loh, bukannya jam 11 ya? Oke deh saya kesana langsung"

"Iya, tapi temen-temen udah sampe duluan. Jam 11 kok kita berangkatnya"

Kabar itu langsung membuatku terburu-buru. Cepat banget mereka sampainya. Aku langsung merapihkan barang dan berangkat. Aku sampai disana sekitar jam 11.15. Aku akhirnya bertemu dengan teman-teman disana. Sebelum berangkat, aku meminta waktu sebentar untuk makan siang.

Ada kejadian kocak sehabis aku makan. Aku gak tahu harus cuci tangan di mana. Salah satu ibu bilang, cuci aja di kamar mandi. Kagetnya aku ketika buka kamar mandi, ada bapak-bapak yang kepalanya botak setengah, lagi duduk di wc jongkok. Aku langsung berkali-kali minta maaf dan dia bilang, "Iya gak papa.. Lupa ngunci tadi". Dia adalah bapak dari yang punya basecamp. Dia membantu kami menitipkan barang-barang dan helm.

Kita menerima briefing sebentar, lalu bersiap-siap mendaki. Di sela persiapan, datanglah satu orang warga lokal. Namanya Wayan.

"Ini Wayan, warga lokal yang bakal ikut. Kalau mau ngobrol tolong pakai bahasa isyarat ya, dia gak bisa dengar"

Wayan adalah orang yang punya kekurangan (tuna rungu). Tapi dia adalah orang yang paling lucu. Dan dia punya skill fotografi yang sangat bagus. Setiap kali ada spot bagus, pasti wayan yang disuruh motoin hahaha.

Agak sulit bicara ama dia. Dia cuma bisa ngomong "haa, hooo, hee" begitu. Walau begitu, aku masih bisa paham sedikit dari gerakan tangannya. Dia bilang ini adalah kedua kalinya dia naik gunung agung. Tahun kemarin dia juga mendaki di hari yang sama, 17 agustus. Dulu, dia pernah membawa motor sampai ke kaki gunung. Nasib buruk, dia pernah terjatuh dan perutnya tertusuk ranting pohon dari dada sampai perut. Untungnya dia selamat. Dia menunjukan gambar bekas lukanya kepadaku.

IMG

---

Kami mulai pendakian. Bisa dibilang, kami berjalan cukup lama dengan istirahat yang sedikit. Untunglah aku masih bisa mengimbangi yang lain, energi ku masih cukup kuat. Pendakian berjalan tidak terlalu serius. Kami ngobrol dan sesekali bercanda dengan hal-hal bodoh.

IMG

Kami sempat beristirahat di salah satu pos bernama "pos kejujuran". Gak tau kenapa dinamain begitu. Posisi kami sudah sejajar dengan awan. Suhu juga mulai terasa semakin dingin dan aku sudah mulai berasakan kering pada bibirku. Kami berfoto-foto sebentar sebelum melanjutkan perjalanan lagi.

Setelah itu, teman-teman yang beragama hindu izin untuk melakukan sembahyang.

IMG

Di peristirahatan setelah 4 jam mendaki, aku cukup kaget. Ternyata masih ada sinyal disini!

---

Sudah 6 jam pendakian. Kalau mengikuti rencana, harusnya kita udah sampe camp area. Tapi kayaknya kita masih terlalu nyantai. Matahari perlahan tenggelam. Ini unik sekali. Jika hari-hari lalu aku melihat matahari tenggelam di pantai bali, kali ini aku melihatnya tenggelam di lautan awan. Indah sekali.

IMG

IMG

---

Haripun gelap sepenuhnya. Aku dan yang lain sudah memakai headlamp sekarang. Secara bersamaan, tenggelamnya matahari bertepatan dengan posisi kami yang berada di batas vegetasi. Kali ini, tidak ada lagi pohon rimbun atau rumput lebat. Semuanya batu dan pasir.

Kami naik sekitar 1 jam, dan akhirnya sampai di camp area. Kami langsung bikin tenda, membakar api, dan makan malam. Kami gak melakukan aktifitas banyak malam itu. Setelah makan, langsung tidur dan bersiap untuk summit ke puncak gunung jam 2 pagi besok.

Aku satu tenda bersama Wayan. Malam itu aku benar-benar kedinginan. Tidur gak nyenyak sama sekali. Salahnya, aku membeli sleeping bag dengan ukuran yang salah. Cuma cukup untuk menutup kaki sampai dada ku. Kalau mau menutup full, aku harus menekuk kakiku sedikit dan itu kadang membuatku kram.

Jam 1 pagi, aku terbangun dengan suara alarm. Wayan juga. Yang lain sepertinya belum bangun. Aku hanya ngobrol dan bercanda dengannya. Disela itu, aku menyetel lagu-lagu lama dari Noah, band yang baru saja aku tonton di konser beberapa hari lalu. Aku gak tau apakah Wayan bisa mendengarnya atau nggak, tapi kepala dia mengangguk-angguk ketika lagu itu disetel.

Dengan bahasa isyarat, Wayan bertanya kepadaku apakah aku sudah memiliki pacar? Aku bilang belum ada. Dia langsung menunjukan foto pacarnya. Seorang gadis cantik berpakaian adat bali. Aku ikut bahagia melihatnya.

---

Semua sudah bangun. Sebelum summit, kami sarapan sebentar. Walaupun cuma pakai mie instan sih. Jujur saat itu aku cukup khawatir jika aku tidak memiliki energi yang cukup karena kurang makan. Tapi mau gimana lagi? Tidak ada makanan lagi yang dipersiapkan.

Kita berangkat summit tepat waktu jam 2 pagi. Di awal perjalanan, sepertinya badanku cukup kaget dengan bebatuan dan tanjakan. Aku sesekali berhenti untuk istirahat. Tapi lama-kelamaan, aku terbiasa berjalan lama. Di perjalanan ini harus hati-hati karena batu dari atas bisa saja jatuh ke bawah. Dan di atas sana bukan hanya batu kerikil dan pasir, tapi ada juga batu-batu besar.

IMG

Cuaca mulai dingin, aku bisa merasakannya menusuk ke kulit ku. Padahal aku memakai baju dobel 3. Semakin mendekati puncak, entah dari mana, angin yang membawa embun menghampiri kami. Sampai ketika kami sampai di puncak 1. Targetnya adalah puncak tertinggi (puncak 3). Tapi dari puncak 1 ini, jalan hanya setapak dan kami diterjang badai. Aku berada di paling depan, jarak pandang hanya 1 meter, dan aku seringkali goyang tertiup angin.

---

17 agustus 2022, sekitar jam 05.00, kami akhirnya sampai di puncak. Sepertinya kami terlalu cepat sampai. Badai masih menerjang daerah puncak, tapi kami gak bisa kemana-mana selain menunggu reda dan matahari keluar. Kami benar-benar hanya duduk dan menahan dingin disana. Aku sempat merekam ekspresi teman-temanku yang seperti ayam mengeram telur hahaha. Akupun begitu. Gak henti-hentinya aku menggerakan badanku. Aku bahkan sampai mengubur diriku sendiri di sela-sela batu dan menaruh tas kerir diatasnya.

Kami melakukan itu selama 1 jam sampai badai mereda, kabut menghilang, dan matahari muncul dari bawah lautan awan. Cahayanya datang duluan memberikan efek gradasi seolah-olah memberikan persiapan untuk memunculkan sesuatu yang selama ini ditunggu-tunggu.

Aku tidak banyak mengambil foto saat itu. Aku hanya fokus menikmatinya, sembari melihat orang-orang disekitarku. Ini adalah foto Wayan dengan background indahnya saat itu.

IMG

Aku benar-benar bangga bisa berada di sana saat itu. Di hari yang spesial, berangkat dari berbagai masalah hidup, dan aku berhasil menggapai puncak.

Seperti badai, masalah memang selalu menyakitkan. Tapi aku tahu bahwa aku masih bisa mengatasinya. Aku memiliki badan yang kuat. Dan tidak ada badai yang bertahan selamanya. Setelahnya pasti selalu ada keindahan. Dan keindahan itu akan menjadi dua kali lipat indahnya jika terjadi setelah kita merasakan kesengsaraan dan kesulitan.

IMG

IMG

IMG

---

Setelah puas, kami turun dari puncak. Aku gak menyangka bahwa turun ini adalah bagian yang lebih sulit dari naik. Aku merasa ada yang tidak beres dengan jari kakiku. Aku selalu tertinggal oleh teman-teman lain ketika turun. Karena memang kakiku kesakitan.

IMG

Singkat cerita, kami berhasil turun ke tenda. Kemudian packing, lalu turun kembali ke basecamp.

Sehabis turun, aku udah merasakan sakit yang luar biasa di jari kakiku. Ternyata kuku jempol kaki kananku mengeluarkan nanah. Dan kukunya agak naik keatas seakan-akan mau lepas. Ah, yasudah lah. Sepertinya bakal lepas. Aku akan menunggu kukunya tumbuh aja.

Aku sampai di rumah dengan perasaan puas, capek, dan kotor. Aku mandi lalu tertidur. Keesokan harinya aku demam. Aku mengopmpres kepalaku, lalu minum obat. Aku hanya tertidur di kamar kos ku selama 2 hari. Inilah yang namanya resiko sebuah petualangan. Tapi setelah itu, aku mulai sembuh dan bisa beraktifitas kembali.