4 Hari sudah aku berada di hostel ini. Di hari kedua, bertemu beberapa orang dari Indonesia yang baru saja menyelesaikan program pertukaran pelajar doktoral di India. Hanya lelah yang menggambarkan wajah mereka di sisa-sisa energi terakhir. Kangen Indonesia katanya. Di India, mereka benci makanannya karena terlihat kotor dan rasanya tidak bervariasi. Makanan manis rasanya hanya manis, makanan asin rasanya hanya asin. Tidak ada rasa lain seperti yang ada di Indonesia.

Malam itu aku bersama mereka mencari makan di food court dekat Hostel. Berbincang banyak hal termasuk segala hal seputar perkuliahan. Sayangnya, besok pagi sekali adalah penerbangan mereka ke Indonesia. Aku ucapkan hati-hati, semoga selamat sampai tujuan. Kalau aku mampir ke Semarang, mereka dengan senang hati mau bertemu lagi.

---

Malam itu aku baru pulang dari makan malam. Dengan basah kuyup akibat hujan, sampai juga aku di teras Hostel. Terlihat seorang gadis sedang santai merokok di bangku teras. Aku meminta izin untuk berbagi asbak dengannya. Dia dari Israel, traveling berdua bersama temannya. Dia akan lanjut ke Vietnam sendiri dan temannya akan pulang ke Israel. Aku menyarankan dia untuk pergi ke Indonesia, tapi ternyata, pasport Israel ilegal untuk Indonesia.

---

Banyak sekali orang Indonesia di Bangkok. Berkali-kali aku mendengar percakapan orang menggunakan bahasa Indonesia disini. Aku berkenalan dengan beberapa dari mereka. Ada yang traveling, ada yang liburan bersama keluarga, ada yang liburan bersama suami/istrinya, ada yang bekerja sebagai usaha jastip. Bahakan di beberapa restoran yang kutemui, yang melayani adalaha orang Indonesia.

Jujur, secara keseluruhan, aku tidak terlalu suka berada di Hostel ini. Semuanya sangat sepi dan orang-orangnya sibuk dengan hal mereka masing-masing. Tidak seperti waktu aku di Vietnam. Semua orang excited untuk berpergian dan merencanakan segala hal. Bahkan saling mengajak untuk pergi ke destinasi tertentu. Aku memang tidak terlalu suka keramaian, namun aku tidak mau mengimbangi kepribadianku itu. Ketika traveling, aku harus berada di keramaian walaupun aku merasa sedikit tidak nyaman. Daripada berada di tempat yang semua orangnya fokus pada masing-masing.

Tapi setidaknya, di situasi sunyi seperti ini, aku bisa menghabiskan waktu untuk full menyelesaikan pekerjaanku. Aku akan memanfaatkan moment ini untuk menyelesaikan segala pekerjaan yang ada walau tidak terasa seperti sedang traveling.

Baru saja semalam, aku book hostel dan tiket kereta untuk destinasiku selanjutnya. Aku akan pergi ke Chiang Mai. Sebuah lokasi di ujung utara Thailand, sekitar 12 jam perjalanan kereta dari Bangkok. Aku ingin merehatkan diriku sejenak disana, melihat pemandangan gunung dan pergi sebentar dari kota. Satu hal yang menjadi tujuanku kesana adalah, salah satu suku paling terkenal di Thailand tinggal di pedalaman Chiang Mai. Suku Karen, orang-orang yang mengalungi cincin besar di leher mereka hingga leher mereka memanjang. Tujuannya adalah sebagai perlindungan diri mereka dari harimau gunung di masa lalu. Hal itu dipercaya bahwa harimau akan takut dengan perawakan orang dengan leher panjang seperti itu. Semoga aku bisa bertemu dengan mereka.