Kenapa Aku Harus Terus Berusaha Agar Diterima di Lingkungan Sosial? (Lagipula, Kenapa Harus Merasa Perlu Diterima?)
Anak kecil itu seperti tanah liat yang lunak dan basah. Mudah dibentuk, mudah dioles, mudah ditanami sebuah ide dan gagasan. Sampai waktu dan dewasa membuat tanah itu kering dan menjadi sebuah bentuk keramik. Lalu kita menyebutnya previlege untuk bentuk yang dianggap bagus, dan menyebutnya trauma untuk bentuk yang anomali. Bentuk itu solid, tapi tidak permanen. Sangat keras, tapi rapuh. Bisa pecah dengan sakit lalu bisa ditambal lagi.
---
Aku mengamati, dan secara berkala, mengintrospeksi tiap langkahku sebagai manusia bumi ini. Sebagaimana diamati pula oleh beberapa orang terdekat, aku berkembang cukup pesat dari segi karir dan pendidikan. Artikel-artikel lama dari blog ini seperti jejak historis dari proses yang terjadi di hari-hari itu. Membaca ulang beberapa artikel membawaku kilas balik ke tiap keacakan, kesalahan, dan pembelajaran yang sudah terjadi di hidupku.
Aku seperti kuda yang melaju cepat, dicambuk oleh pecut resah, gelisah, dan perasaan tidak diterima dimanapun sebelum melakukan sesuatu yang menyenangkan orang agar diterima di lingkungan sosial.
Aku teringat sebuah pertanyaan. Apakah benar-benar ada sesuatu yang disebut "unconditional love"? Apakah ada satu ruangan di dunia yang tertutup, nyaman, dan kita bebas bersalah, bertelanjang di dalamnya, menunjukan segala goresan pada badan, namun tetap dicintai sedemikian rupa?
4 tahun berkelana dewasa ini, aku bertemu dengan banyak sekali orang. Semakin lama berkelana, semakin aku melihat dan berpikir kontra akan apa yang aku yakini. Dunia adalah komposisi dari berbagai gelembung sosial yang berbeda-beda, dengan pemahaman tentang "kebenaran" dan "keburukan" masing-masing.
Rasa tinggi toleransi, rasa takut, perasaan dicintai secara kondisional, mengikis tubuh ku perlahan menjadi "berpura" cair. Tubuhku dipaksa menyatu sesuai dengan gelembung yang bentuknya berbeda-beda itu. Visiku adalah membuat semua orang bahagia dan suka denganku –– yang mana sangat tidak mungkin.
Lalu apa yang menyebabkan aku bertanya tentang unconditional love ini? Apakah masa ketika aku siap dibentuk seperti tanah liat, aku kehilangan pilin-an kecil itu? Sampai aku terlanjur masuk ke tungku pembakaran dengan menyisakan sedikit lubang.
Aku yang keras dewasa ini menyadari akan lubang itu. Aku perlahan ingin menambalnya dengan aksesoris atau pilin-an tanah yang lain, alih-alih berpura-pura menjadi bentuk lain agar sama dengan keramik lain. Padahal, beberapa keramik lain adalah untuk siap dibuang.
Aku tidak perlu acuh dengan orang yang tidak ingin diacuhkan. Aku tidak perlu merendahkan diri untuk orang lain yang tidak ingin ditinggikan. Aku tidak sama dengan diriku terdahulu, juga para pendahulu. Aku bisa berdiri dan bernilai. Aku bisa jeli antara melihat sebuah inspirator dengan orang biasa.
Comments