Juni, 2021, Di sebuah rumah makan di Kota Metro.
Akhirnya dia bilang bahwa dia memiliki perasaan yang sama seperti perasaanku kepadanya. Rasanya senang dan sedih secara bersamaan. Kenapa semua ini harus terjadi diakhir? Di hari dimana aku akan pergi dan tidak tahu kapan akan bertemu lagi, kecuali kalau direncanakan dengan sangat sungguh-sungguh. Aku sedih, dia putus asa. Kuputuskan untuk datang dan bicara agar semuanya jelas. Karena aku tahu rasanya menunggu itu menyakitkan. Aku tidak ingin dia merasakan seperti yang yang aku rasakan ketika menunggunya.

Maka, saat itu aku bicara. Meski dia yang menjadi penyebab sakit hati ini, aku tidak ingin aku menjadi penyebab sakit hatinya. Kita gak tau kapan akan bertemu lagi, dan itu pasti rasanya akan tidak enak. Aku bertanya, apakah sebaiknya hubungan ini dilanjutkan, atau disudahi saja.

Mungkin dari mimik wajah tidak kelihatan, tapi sebenarnya aku sangat gugup. Aku menghela nafas sedikit.

Aku bilang, "kalau kamu tanya apa yang aku mau, aku akan memilih untuk lanjut, tapi apapun keputusan kamu, aku terima".

Segala fokusku hanya kepada dia. Tentang apa yang akan terjadi kepada dia setelah semuanya, tentang bagaimana perasaannya setelah ini. Aku? Aku sudah terbiasa menunggu, aku sudah terbiasa jauh, aku sudah terbiasa sakit. Aku bisa memastikan kepada diriku sendiri bahwa tidak akan ada orang lain selain dia jika hubungan ini dilanjutkan. Aku bisa memastikan bahwa aku tidak akan membiarkan dia sakit hati karena perbuatanku.

Dia diam cukup lama memikirkan kata-kata untuk menyampaikan jawabannya. Lalu dia bilang, kalau hubungan ini disudahi, maka akan sama saja seperti apa yang terjadi sebelumnya.

Kita satu jawaban. Dia mau melanjutkan hubungan ini dengan beberapa syarat. Aku juga memberinya beberapa nasihat dan meyakinkannya. Ini akan berat, tapi aku yakin bisa.

---

Aku tiba di terminal. Secara mengejutkan, dia menungguku disana. Lambaian tangannya di luar bis adalah awal dari perjalanan karir ku di tempat yang jauh sana, tanpa ada pengalaman dan teman dekat. Dia tidak melakukan apa-apa, tetapi keberadaannya menguatkanku.

---

Akhir februari 2022.
Dia bilang via telepon, dia ingin ngomong sesuatu beberapa hari lagi. Dia bilang begitu karena ingin membuatku overthinking katanya. Aku tidak tahu apa maksudnya dan mencoba untuk tidak penasaran sama sekali kecuali menunggu hari itu.

Tepat di hari yang dijanjikan, aku menunggunya. Dia sangat slow respon sepanjang minggu itu. Beberapa pesanku tidak dibalas. Teleponku tidak diangkat. Aku memakluminya, karena akhir-akhir ini dia bilang kalau dia sering main dengan teman-temannya. Malam itu, pesanku masih belum dibalas juga, aku sangat khawatir dan aku ketiduran.

---

Malam itu benar-benar malam yang aneh. Aku bermimpi melihatnya di Kintamani. Kintamani adalah tempat yang sangat indah di Bali. Ketika pertama kali aku mengunjunginya, hal yang terlintas di pikiranku adalah untuk mengajak dia kesana suatu hari nanti. Tapi, di mimpiku dia berada di sebuah mobil, di kursi belakang, bersama orang lain. Aku gak tau siapa. Aku mengetuk jendela mobil itu sambil menyebut namanya, tapi dia tidak menghiraukan aku.

Aku terbangun untuk shalat subuh, lalu cek hp untuk melihat apakah aku sudah menerima balasan pesan dari dia. Aku tahu itu cuma mimpi, bukan sesuatu yang beneran terjadi. Tapi rasa sakit hatinya terasa sampai aku terbangun. Aku menelepon dia, dia mengangkatnya, tetapi diam saja. Sepertinya masih ngantuk berat. Aku kesal, mematikan telepon, lalu pergi motoran untuk sedikit menenangkan diriku ini.

Sampai di kos, aku melihat ada beberapa panggilan tak terjawab. Aku menelepon dia balik. Disitulah aku tahu maksudnya. Dia ingin menyudahi hubungan ini sekarang. Meski dia sudah bilang bahwa dia ingin bicara sejak minggu sebelumnya, bagiku ini sangat mengejutkan karena aku tidak tahu apa yang mau dibicarakan sebelumnya. Telepon hanya berlangsung 1 jam dengan dia menyebutkan alasannya kenapa dia harus begini. Kemudian di akhir, dia meminta tanggapanku secara langsung. Aku saat itu masih sangat kebingungan, sakit, dan kaget. Entah apa yang keluar dari mulutku saat itu.

Lalu, apa maknanya aku menemuinya di Metro bulan Juni lalu? Apa maknanya setelah kita menjalani hubungan ini selama hampir setahun? Gitu aja? Tiba-tiba gitu aja?

---

Terkadang aku berfikir, entah apa alasannya, entah apa faktornya, entah dari mana datang tekanannya, dia seringkali membohongi dirinya sendiri dan selalu meng-"gak papa"-kan segala hal walau terpaksa.

Sekarang, hanya aku yang tidak boleh menemuinya. Hanya aku yang dibatasi chatnya. Hanya aku yang tidak boleh sering-sering ngobrol dengannya. Usahaku untuk membuat dia bahagia yang menyebabkan dia begitu. Itu semua adalah sebuah kesalahan, memang.

Dia selalu bilang, bukan gak mungkin aku akan tertarik dengan orang lain. Bukan gak mungkin aku akan jatuh hati dengan orang lain. Berkali-kali dia bilang, "kalau ada yang lain tolong bilang, jangan tiba-tiba pacaran atau dekat dengan orang itu", "jangan tiba-tiba menghilang tanpa alasan".

Aku benar-benar tidak paham, sebesar apapun usahaku untuk meyakinkannya, dia tidak pernah percaya. Aku tidak bisa apa-apa selain meng-iya kan nya saja. Mungkin dia terlalu sering melihat cowok-cowok brengsek di sekitarnya yang menghilangkan rasa percaya nya kepada siapapun sehingga dia selalu memikirkan kemungkinan terburuk terus, dan perpisahan terus. Nyatanya, sampai hari ini, semenjak dia menyudahi semuanya, aku tidak dekat dengan siapa-siapa. Aku tidak jatuh hati dengan siapa-siapa. Dia yang tiba-tiba menghilang. Dia yang tiba-tiba menyudahi. Dia yang tiba-tiba memblokir nomorku.

Hal seperti ini yang membuatku menyalahi diri sendiri dan berfikir, seharusnya aku bisa menjadi tidak lebih lembut dari ini, aku bisa menjadi tidak lebih baik dari ini.