23 Agustus 2026.

Taipei hari ini agak cloudy. Dapat kabar bahwa angin topan akan segera datang besok. Aku duduk di taman tak jauh dari rumah kontrakan yang kusewa demi berada disini selama sekitar 4 bulan dalam rangka magang riset di kampus NTU.

Wah, aku baru sadar, belakangan ini, sudah lama sekali aku tidak menulis di blog ini. Mungkin karena kurang waktu, mungkin juga karena terlalu banyak yang terjadi secara bersamaan.

Terakhir aku ke Taipei adalah perjalanan mendadak bulan Juni lalu yang menjadi bagian dari traveling ku ke Bali - Balikpapan - IKN - Taiwan bersama Emy. Ah, bahkan tulisan tentang IKN pun belum rampung aku tulis. Entah apakah aku akan mulai jarang lagi menulis mengingat kepadatan jadwal riset yang akan terjadi nanti. Tapi tak apa, di hari yang berawan agak mendung ini, di taman, dibawah pohon besar, aku berniat merekap yang telah terjadi belakangan ini. Bersama lagu The Greatest Love of All yang menyala di kupingku. Lagu ini mengingatkanku untuk tetap berdikari dan mencintai diri sendiri.

---

Tiap sudut taman adalah surga bagi para kakek dan nenek. Sebelahku saat ini adalah seorang nenek dengan kursi roda, berjalan-jalan mencari angin segar bersama caregiver-nya yang aku yakin adalah seorang wanita dari Indonesia.

Kedua kalinya aku di Taiwan, hal ini bermula pada bulan januari lalu, akibat dari kekesalanku karena tidak diterima oleh President University pada program pertukaran pelajar ke Tunghai University. Aku akhirnya mendaftar di National Taiwan University, bukan untuk program pertukaran pelajar, tapi magang. Kemudian bulan mei lalu, dari puluhan professor NTU yang aku email, ada 4 yang membalas, dan 1 yang bersedia mewawancaraiku.

Lalu di bulan juni, aku kebetulan sedang traveling di Taipei. Prof. Jonathan Lee dari Departement of Computer Science and Information Engineering. Vibes dari orang ini ketika wawancara adalah sangat tegas, horor, galak, dan straightforward tanpa basa basi. Dia terus meyakinkanku apakah aku mau bekerja dengannya. Dia juga memperingatkanku bahwa kerja dengannya akan sangat sibuk dan aku tidak akan sempat bekerja sampingan apapun. Ia pun menyarankanku jika aku mau, aku bisa mencari professor lain untuk bekerja dengannya. Ditambah lagi, banyak mahasiswa magangnya berasal dari MIT dan universitas terbaik di Mexico. Ia bertaruh besar dengan menerimaku sebagai mahasiswa magangnya yang berasal dari negara berkembang, Indonesia. Wow, sangat banyak warning yang membuatku ragu. Tetapi aku secara setengah yakin menjawab, aku siap. Aku segera mendapat surat rekomendasi darinya yang kemudian aku proses langsung ke NTU dengan estimasi proses 2 bulan. Aku sangat senang sekali bahwa akan ada kemungkinan aku kembali ke Taipei, bersekolah di kampus nomor 1 di negara ini.

Akupun kembali ke Indonesia dan menyewa apartemen di Cikarang, area sekitar President University. Aku punya waktu total 3 bulan untuk mempersiapkan semuanya. Sepanjang itu, aku sangat sibuk dengan banyak hal. Mempersiapkan barang, persiapan dan melakukan test IELTS, membaca paper, membaca buku, bekerja, dan mengikuti kelas offline. Dibantu oleh Emy dari Taiwan, satu persatu aku selesaikan.

Sampai aku menerima surat dari NTU dan menteri pendidikan Taiwan bahwa aku diterima sebagai mahasiswa riset. Akupun langsung sibuk mengurus visa magang dan medical checkup. Dari Taiwan, Emy membantuku banyak sekali. Ia mencarikanku kontrakan dan menyelesaikan masalah penukaran uang.

Singkat cerita, disinilah aku sekarang untuk kedua kalinya, hari ketiga di Taiwan. Hari ini, aku dan Emy berkeliling NTU. Banyak hal yang benar-benar tidak dapat dipercaya. Banyak sekali doa yang terkabul. Aku sangat bersyukur.

Minggu depan akan menjadi minggu pertama aku mulai bekerja riset. Tidak ada yang bisa aku ekspektasikan. Rasia bersemangat, tertekan, takut tidak bisa survive. Semoga semua akan baik-baik saja.

Bagus Muljadi, seorang Assistant Professor yang merupakan lulusan NTU dari Indonesia berkata, “Be competent and you will get the meaning of life”.

images