8 Februari 2021, aku main ke tempat temenku, Yudi, di bakauheni. Ceritanya waktu itu lagi pusing akan sesuatu. Rasanya mau kabur yang jauh, keluar dari semuanya sebentar. Dan aku bersyukur, Yudi punya kesempatan buat main disela waktu kerjanya sebagai penambak udang. Ini kali kedua aku kerumah nya. Sebelumnya pernah numpang nginep sebelum ke Jawa Tengah untuk mendaki gunung slamet.

Rumahnya sekitar 14km dari pelabuhan. Aku naik motor sendirian dari metro. Memakan waktu hampir 4 jam buat sampai kesana.

Aku sampe, dan nginep di rumahnya. Besoknya, Yudi ngajak aku buat keliling tempat wisata baru di bakauheni. Bukit, pantai dan pelabuhan. Dia ngajak temennya juga, Basiron, yang bekerja di rumah makan di dalem pelabuhan.

Di sepanjang jalan daerah bakauheni, aku ngeliat banyak banget orang gila. Biasanya orang gila itu ada di beberapa tempat aja dan paling cuma 1 atau 2. Tapi sepanjang perjalanan di bakauheni, aku ngeliat ada banyak banget. Mungkin 10 lebih (yang aku liat). Ada yang lagi ngorek sampah, ada yang nangkring di flyover, ada yang duduk di bunderan, ada yang lagi jalan biasa.

Warga sana kayak udah biasa liat orang-orang semacam itu. Warga sana menatap mereka seperti hewan liar. Gak henti-hentinya aku berkata dalem hati kalo liat orang gila disana. Bertanya pertanyaan retoris ke diri sendiri, "Itu manusia ya? Manusia kan? Manusia yang sama yang dibela mati-matian sama manusia lain kalau haknya diganggu? Bukan simpanse atau kucing liar?".

Aku bertanya ke Yudi, kenapa bisa banyak banget orang kayak gitu. Dia bilang.

"Kebanyakan orang gila disini asalnya dari Banten. Pulau seberang. Dibuang kesini karena keluarganya gak mampu ngurusin. Malah dulu pernah ada kapal khusus yang ngangkut orang-orang kayak gini ke bakauheni. Kalo kata saya, mereka jadi kaya gitu karena gak kuat belajar ilmu ghaib. Tau sendiri kan di Banten kentel banget ilmu begitu. Tapi gak tau juga sih."

Satu-satunya yang mereka punya adalah hari yang masih berjalan. Mereka gak mikir masa depan, mereka gak punya keluarga, mereka gak bersosialisasi, tujuan hidupnya adalah kenyang hari ini. Kenapa mereka bisa hidup? Kenapa mereka kuat? Jangan-jangan mereka memang kucing liar yang beradaptasi. Yang cuma tahu meong, dan hanya menyadari bahwa masih ada nafas di leher mereka.

Bagaimana jika aku terlahir sebagai orang itu? Apa yang bakal aku pikirin hari ini? Apakah aku akan berfikir kalau aku gak sukses, dan cuma bisa dapet makanan sedikit dari tempat sampah, maka kehidupan akan berakhir?

Tuhan adalah penulis cerita yang adil untuk semua tokohnya, tapi dengan plot yang membingungkan. Sudut pandang ini terlalu sempit.