{
    "componentChunkName": "component---src-templates-post-js",
    "path": "/tantangan-besar-untuk-pergi-ke-amerika/",
    "result": {"data":{"markdownRemark":{"html":"<p>Tidak ada jalan yang mulus untuk suatu pencapaian yang besar. Kayaknya pernyataan itu sangat benar. Aku saat ini berada di ruang tunggu keberangkatan internasional di bandara Soekarno Hatta, keberangkatan menuju San Francisco, California, Amerika Serikat. Aku sangat excited sekalii!!!!!</p>\n<p>Aku ingin sedikit curhat tentang bagaimana saja kesulitan yang aku dapat dalam usaha menginjakan kaki di negeri paman sam ini. Begini ceritanya.</p>\n<p>Aku sebenarnya cukup kaget mendengar kabar bahwa aku akan diberangkatkan ke Amerika Serikat oleh perusahaanku di Belanda. Di suatu pagi di daerah Banjarnegara, Jawa Tengah, masih dalam suasana lebaran idul fitri sekaligus ulang tahunku ke 23 di tanggal 1 april 2025, aku menerima kabar tersebut.</p>\n<p>Sontak aku sangat senang dan juga khawatir akan perjalanan ke Amerika ini. Pertama, semua perjalanan ku sepenuhnya akan dibayari oleh perusahaan dan aku disuruh mengurus visa secepatnya dan akan berangkat kurang dari sebulan kemudian. Kedua, negara ini sedang dalam pengetatan administrasi terutama kepada traveler dari luar negeri yang ingin masuk ke negara ini. Mendengar kabar juga bahwa baru baru ini, presiden Amerika terpilih, Donald Trump, memberlakukan kebijakan yang membuat beberapa imigran ilegal dan mahasiswa indonesia dideportasi kembali ke negara. Sebenarnya tujuanku jelas untuk bisnis. Surat undangan pun ada. Namun tetap takut tidak berhasil karena ada pengetatan kebijakan ini.</p>\n<p>Segera aku cari tahu step dan tata cara apply visa ke Amerika. Saat itu, aku masih belum benar-benar sadar akan betapa ketatnya pengurusan ini. Aku diharuskan untuk melakukan wawancara visa di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta Pusat. Aku cukup percaya diri karena aku punya semuanya lengkap. Langsung aku jadwalkan interview dan pergi ke Jakarta.</p>\n<p>Singkat cerita, 10 april 2025, jadwal interview tiba. Aku merasa dokumen sudah lengkap. Sampailah aku di kedutaan, mengantri sedikit, lalu berhadapan tatap muka dengan konsuler untuk diwawancara. Semuanya aku jawab dengan tegas. Namun sayang, hasilnya adalah kertas pink yang artinya visaku DITOLAK!</p>\n<blockquote>\n<p>⁠Ada 4 jenis warna kertas penting yang harus diketahui ketika apply visa amerika ini. Pertama, kertas pink yang artinya visa ditolak. Kedua, kertas kuning yang artinya paspor dan visa ditahan karena harus ada pengecekan internal dari pihak Amerika kemudian bisa diputuskan akan diterima atau ditolak. Ketiga, kertas hijau yang artinya visa diterima dengan dokumen tambahan yang harus disiapkan. Dan keempat, kertas putih yang artinya visa diterima.</p>\n</blockquote>\n<p>Tidak ada alasan spesifik. Mereka memang tidak pernah dan tidak berhak juga memberi alasan penolakan. Disitu aku sangat lemas dan kecewa. Berkali-kali mengintrospeksi diri sendiri tentang apa yang membuat aku ditolak dan apa jawabanku yang membuatnya ragu. Setidaknya aku dapat clue bahwa penolakan hanya terjadi jika aku tidak bisa menunjukan bukti kuat bahwa aku akan kembali ke Indonesia dan tidak menetap disana.</p>\n<p>Sedih, kecewa, kesal, tapi aku tidak ada waktu untuk murung terlalu lama. Aku tetap berusaha mencari cara apapun yang bisa aku lakukan. Dari pagi itu sampai sore, aku mencari cara bagaimana ini bisa terwujud. Akhirnya aku menemukan agen visa yang bisa membantuku. Aku konsultasi banyak hal dan menerima beberapa masukan penting. Mereka membantuku mengecek jadwal interview terdekat. Awalnya mereka bilang jadwal interview berikutnya hanya bisa bulan mei. Disini aku sudah hampir menyerah. Namun setelah dicek lagi, ada untuk tanggal 24 april. Yang mana akhirnya aku dapat tanggal 16 april lewat request appointment darurat. Tanggal ini sangat ketat, namun masih ada kemungkinan.</p>\n<p>Akupun mulai menyiapkan lagi seluruh dokumen yang mungkin diperlukan. Aku tunjukan bukti surat tanah yang aku punya, status kemahasiswaan, dan juga aku akhirnya membuat NIB perusahaanku di Indonesia. Apapun untuk menunjukan bahwa aku akan pulang ke Indonesia.</p>\n<p>Singkat cerita lagi, interview selanjutnya pun tiba. Aku merasa gugup, namun tetap percaya diri. Karena tujuanku jelas dan tidak ilegal, tinggal bagaimana cara aku menjelaskannya saja.</p>\n<p>Sampailah aku di hadapan konsuler yang berbeda dari konsuler sebelumnya. Awalnya aku merasa percaya diri, namun ketika ditanya-tanya lagi, aku mulai gugup. Pertanyaan kali ini beda dengan apa yang menjadi concern di pertanyaan konsuler sebelumnya. Kali ini dia mempertanyakan bukti bahwa perusahanku yang membayar trip ini. Akupun berkata dalam hati, \"Ya ampuunnnn ada aja sih kesalahan yang dicari!!\". Ia juga menyindirku dengan jutek bahwa aku baru saja interview 6 hari yang lalu. Ia bilang apa bedanya ketika kamu 6 hari yang lalu (ditolak)?</p>\n<p>Maksudku, pertanyaan itu ditanyakan karena aku jujur bahwa trip ini dibiayai oleh perusahaan. Aku juga sudah menyiapkan rekening koran 3 bulan terakhir yang mana tabunganku sudah lebih dari cukup bahkan untuk mengcover seluruh perjalanan ini. Aku bahkan bisa bayar semuanya. Tapi konsuler malah menanyakan mana bukti bahwa perusahaan membayari trip ini.</p>\n<p>Aku masih sangat berharap, namun di sisi lain aku pasrah. Di hadapannya aku berpikir, sudahlah, gak tau lah, apalah hasilnya ini.</p>\n<p>Aku diam cukup lama menunggu konsuler mengetik sesuatu di depan layar komputernya. Aku menunggu warna kertas apa yang akan diambil tangannya. Dan, kertas kuning.</p>\n<p>Aku cukup lega karena itu bukan kertas pink lagi. Tapi lama-lama aku makin stress juga. Sekarang statusnya adalah visa diantara diterima atau ditolak. Dan tidak ada pemberitahuan kapan visa tersebut selesai jika diterima.</p>\n<p>Aku bertanya-tanya tentang apa yang bisa aku lakukan untuk mempercepatnya, tapi tampaknya tidak ada. Aku hanya disuruh menunggu tanpa kepastian.</p>\n<p>Berhari-hari aku anxious dengan keadaan ini. Pihak perusahaan menanyakan kabar setiap hari. Mereka ingin ada plan B, apakah mereka harus refund tiketnya atau tidak. Namun aku hanya menjawab, tunggu sampai ada kabar dari kedutaan.</p>\n<p>Aku baca-baca review dan pengalaman orang lain tentang surat kuning ini. Rata-rata semuanya diterima, tapi setelah 6 bulan bahkan 1 tahun menunggu. Aku cukup pasrah dan kesal dan juga kecewa. Apapun hasilnya, yang penting aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan langkah kaki pertama di Amerika ini.</p>\n<p>Sampailah di hari ke 5, aku senang bukan main ketika mengecek status bahwa visaku diterima!!!!!!!! Aku lompat-lompat dan jingkrak-jingkrak tidak berhenti. Ini adalah sebuah keajaiban karena seharusnya bisa lebih lama dari itu. Kasus seperti ini sangat jarang terjadi. Ternyata, pihak kedutaan secara langsung mengkonfirmasi ke perusahaan tempatku bekerja bahwa apakah benar aku adalah utusan kantor dan kantor akan membiayai seluruh perjalananku. Aku bersyukur pihak kantor cukup responsif dan langsung membalas email tersebut sehingga semuanya berjalan sangat cepat.</p>\n<p>Dari yang menunggu tanpa kepastian, tiba-tiba aku harus sibuk mengurus persiapan ke Amerika. Bolak balik mall dan toko, beli ini itu, kesana kemari. Ditambah kesibukan kuliah dan pekerjaan juga.</p>\n<p>1 Mei 2025, hari ini, hari keberangkatan tiba. Aku diantar oleh kakak, mas, mama, papa, dan kedua keponakanku yang lucu.</p>\n<p>Semua berjalan lancar sejauh ini, tidak ada masalah. Keadaan tenang seperti ini justru aku takutkan. Takut tiba-tiba ada masalah besar terjadi.</p>\n<p>Dan… Benar saja.</p>\n<p>Setelah berpamitan, aku melakukan check in di bandara. Dan ternyata seluruh tiket penerbangan PP ku Indonesia-Amerika ditolak maskapai (Eva Air). Alasannya karena aku menaruh nama \"Tegar Santosa\", nama tengahku sebagai nama depan dan nama belakang.</p>\n<p>Dari situ aku ingat bahwa pihak kantor sempat mengalami masalah ketika mencoba memesaniku tiket. Website Eva Air tidak mengizinkan untuk memakai nama lengkap ketika input nama. Jadi hanya nama depan dan nama belakang. Pihak kantorpun menginput namaku, \"Tegar Santosa\". Namun karena nama lengkapku \"Muhammad Tegar Santosa Putra\", mereka bilang seharusnya namaku \"Muhammad Putra\". Mana aku tau?? Tidak ada arahan sama sekali. Seharusnya aku dibiarkan untuk menginput nama lengkap, dan tinggal sistemnya sendiri yang memutuskan nama proper untuk tiketku. Aku kesal sekali dengan pihak maskapai. Website mereka yang sulit, tapi aku yang harus menanggung semuanya.</p>\n<p>Pihak maskapai sudah 100% tidak bisa mentolelirnya. Aku disarankan untuk refund seluruh tiket, lalu booking lagi dengan nama yang benar. Sialan!</p>\n<p>Akhirnya aku menghubungi pihak kantor. Lalu pihak kantor setuju untuk refund dan booking tiket lagi.</p>\n<p>Setelah berpusing ria, akhirnya aku pesan tiket di hari yang sama. Namun maskapainya berbeda. Karena pesawatku sebelumnya sudah berangkat duluan. Akhirnya aku dapat tiket Nippon Airways dan China Airlines.</p>\n<p>Dari harga tiket 18 juta, berhasil direfund 14juta. Lalu pesan lagi tiket total 26 juta. GILAAA!!!</p>\n<p>Disinilah aku sekarang. Menunggu keberangkatan sebelumnya. Seharusnya aku transit di Taiwan, tapi nanti aku akan transit di Jepang (Tokyo).</p>","excerpt":"Tidak ada jalan yang mulus untuk suatu pencapaian yang besar. Kayaknya pernyataan itu sangat benar. Aku saat ini berada di ruang tunggu…","fields":{"slug":"/tantangan-besar-untuk-pergi-ke-amerika/"},"frontmatter":{"title":"Tantangan Besar Untuk Pergi Ke Amerika","date":"May 01, 2025","tags":["traveling"],"categories":["Pengalaman"],"description":"no description","comments_off":"no","thumbnail":{"childImageSharp":{"fixed":{"base64":"data:image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAABQAAAAUCAYAAACNiR0NAAAACXBIWXMAAA7EAAAOxAGVKw4bAAADOUlEQVQ4y3VU32tURxTejdRn/4D+JxXdrG4S3c05wVCQtqQPRUW0GGhL6IoPRQr6pA9WKcXmVQTrQyoliMKKuAiK0J2za6KJLVVL0OIvStG993zlnJm9ril9ONy5M3O++b4z35wSApcgZFFGl0rqY34fQk0ItSC0BuEMQn0VfgihRQgfgNAmzw1cjjkxLNkGI/ajEXwOgV9ACAicgtZ9GRB6BKEZz0uENAGWHTTwexBaiECe+AZCxkwhrOmbG1OPdIAKnRpSmRgGZ7cAYWig13mHcjVQYdVARQz+8w4h71CmwcA950SSP1KKlHluAOaJ9xi4ywMQm0c6AD63xIrlONZgKmzMuww0XQC/8ISuSWLcW6jrX9cngSUugAbANvfn1QYe/NJQ3PX5LO3pQWijMWzaRN6hN7b5wrFx3VOroLm7isdXGw6QJMKYdy/WMcuj2D9RQeuHHa4mybe6TxvDVjrBJrW5u6r7xir4ZPNWSwAeTCH7lZAZ4Crj/LdjmNmyFZ9tq+DEwe0mXfNA/YhB8wa4lhj64pUzEzhEozi+dxue3ZgEelGqM1xi/L7YwJGPq/hyehR3zu2EAyaGKtwuRWukYps9lhhWv9d36H9r+PctwvN2UeOBrWzPy5K/ADdqYRF4sbs8fLPFOLdvjz2ctYOxpvWnJvkhYkKeFr1maXMB9g5oJ9VUhqwT11oGuJh++gOW7sMee9J6QDvMFSwPy7Vcv5TTJtkeui32kxe1d7GOVzcn/VYdpPOWMX6bwlqrgZVL9cL80dy+XjPATRr4UWKQWaFPfr5d5z4cxf2f67FeqwysxIuxmz2ws4JzR8cU911+sgy37Qn7O4bwTKpH3xj+c5vwY7Om+ycq+s2nVXz/VQ1nvqjh8EdVA9Ofjo9rYpwPueAD6wsGWPbmIHwqgWbocWan/3G5oZdOjuvZr2s6f7iml7+b0CfXJhUrrOhyv3CB8GxqDhtSP4zhXUMKI2dY5j5WpzKsssaYspL0i6cWm8KsqzRiEpuDsSsPepoG2gWh3uB1/CcKVtRW4c2pl5bX9UNnZ+OReABtVOFpCM9roLYGeqmBnmrgFoRPq9BY0VQDb3jbtbn0L4z9aDtuZOYYAAAAAElFTkSuQmCC","width":150,"height":150,"src":"/static/17778da02e04d07b911970cb7ae897b1/92ab1/default.png","srcSet":"/static/17778da02e04d07b911970cb7ae897b1/92ab1/default.png 1x,\n/static/17778da02e04d07b911970cb7ae897b1/668a7/default.png 1.5x,\n/static/17778da02e04d07b911970cb7ae897b1/56e34/default.png 2x"}}}}}},"pageContext":{"slug":"/tantangan-besar-untuk-pergi-ke-amerika/","previous":{"id":"81c7385b-a825-55b6-a555-0f1239069a53","frontmatter":{"title":"Retrospektif Bisnis Pertama","tags":["bisnis"],"categories":["Pengalaman"],"template":"post"},"fields":{"slug":"/retrospektif-bisnis-pertama/"}},"next":{"id":"234ce912-10f4-5eb4-be91-a268841a375a","frontmatter":{"title":"Menginjakkan Kaki di Silicon Valley, California, Amerika 🇺🇸","tags":["traveling"],"categories":["Pengalaman"],"template":"post"},"fields":{"slug":"/silicon-valley-usa/"}}}},
    "staticQueryHashes": []}