Di tengah malam di hostel, masih di kota Chiang Mai, aku dan Jacky (staff hostel), sedang ngobrol banyak hal di teras. Aku yang tadinya sedang duduk sendirian sambil mengedit video perjalanan traveling ku selama di Chiang Mai dihampiri oleh Jacky dengan satu pertanyaan singkat.

"You wanna drink together? I give free bottle for you."

Aku tidak ingin mabuk malam itu. Tapi aku mengiyakan jika Jacky ingin duduk dan ngobrol sambil minum sendiri. Duduklah kami berdua di kursi teras yang sandarannya sangat menyamankan pundakku setelah berkeliling kota seharian. Jacky bertanya kepadaku tentang siapa perempuan yang bersamaku kemarin malam. Dia adalah Lis, seorang teman yang aku kenal di salah satu taman tidak jauh dari hostel.

Jacky mem-bercandai ku soal perempuan itu. Dia memintaku mengaku saja kalau dia adalah pacarku hahah. Aku bilang tidak, dia benar-benar cuma seorang teman yang aku kenal seperti teman baruku yang lain. Kami explore banyak tempat di Chiang Mai dan aku banyak belajar tentang budaya lokal Thailand dan Myanmar kepadanya. Lis adalah seorang gadis seumuranku yang berasal dari negara Chan. Negara yang masih belum diakui keberadaannya dan masih terlibat perang saudara di Myanmar. Hal itu membuat Lis dan keluarganya pindah ke Thailand dan Lis besar di kota ini. Sekarang dia bersekolah disini, juga merangkap sebagai seorang guru lukis dan tari tradisional. Semua hal yang berkaitan dengan seni ada di dalam dirinya.

Dari bertanya soal Lis, Jacky kemudian bercerita tentang beberapa perempuan yang pernah menjalin kasih dengannya. Jika dia tidak bilang soal umurnya, aku tidak akan tahu kalau usia Jacky saat ini adalah 40an. Aku kira dia masih sekitar 29 mungkin. Dia sudah pernah menikah dan mempunyai anak, namun dia bercerai dengan istrinya. Sejak mengurus hostel, dia banyak mendapat kenalan baru dari berbagai mancanegara. Salah satunya adalah wanita Jepang yang pernah menjadi costumernya.

Dia menunjukan kepadaku foto wanita itu, sedang pose menunduk dengan sebotol bir ditangannya.

"Arigatoo.. Arigatoo.."

Begitu kata Jacky sambil menggambarkan suasana yang terjadi ketika foto itu diambil.

Itu adalah foto yang dia ambil di hari terakhir sebelum mereka berpisah, setelah mereka sama-sama sudah saling mengakui bahwa mereka menyayangi satu sama lain. Wanita itu menyampaikan banyak terima kasih kepada orang-orang di hostel waktu itu karena sudah memberinya banyak hal baik dan momen tak terlupakan selama di Chiang Mai.

Jacky bertanya kepadaku, setelah ini, aku mau kemana?

Aku bilang, aku masih tidak ada plan. Aku ingin bertemu dengan suku karen, namun aku tidak tahu mereka ada dimana. Ketika aku di perjalanan menuju Doi Inthanon, gunung tertinggi di Thailand, aku bertemu dengan salah satu wanita keturunan karen. Namun dia tidak memakai cincin besar di lehernya. Wanita itu bilang, suku karen yang masih sangat tradisional berada di Chiang Rai. Yah, mungkin aku akan ke Chiang Rai habis ini.

Kemudian Jacky bilang kepadaku kalau aku harus ke Pai. Dia sangat yakin kalau aku akan menyukai tempat itu. Dengan mendengar cerita darinya tentang kota Pai, aku merasakan angin itu. Angin yang seakan-akan memintaku untuk mengikutinya. Jacky mau membantuku untuk book tiket ke Pai dan aku menyetujuinya. Dan disitulah rencana itu datang, aku akan ke Pai lusa.

---

Hari dimana aku berangkat ke Pai. Perjalanan sekitar 3 jam menggunakan bus mini van. Aku tertidur selama setengah perjalanan dan terbangun dengan pemandangan yang luar biasa. Pegunungan berjejer didepanku.

Sampailah aku di stasiun bus sekitar jam 6 sore. Aku turun dan mencari alamat hostelku di Pai. Aku menyadari bahwa jalan dimana aku berada ini dikenal dengan "Pai Walking Street". Jalan yang selalu ramai di Pai. Tapi, ramainya benar-benar hanya di jalan itu saja. Belok jalan sekali, aku tidak melihat keramaian itu lagi.

Hari semakin gelap, aku terus berjalan mencari alamat hostelku.

Image

Setelah 20 menit berjalan, sampailah aku di hostel itu. Suasananya benar-benar horor. Hostel ini seperti kebun yang belakangnya adalah sawah dan langsung pemandangan gunung. Aku bertemu dengan ibu pemilik hostel itu, yang semua orang mengenalnya dengan sebutan "mama". Dia menyambutku sangat ramah.

"Heii, wanna check in? Come come here.."

Dia mendata diriku sebentar dan segera menunjukan kamarku. Di sela proses pendataan dia bilang kepadaku.

"You are a good boy, handsome boy"

Haha, dipuji oleh ibu-ibu yang sudah berumur membuatku sedikit malu.

Aku kemudian menaruh semua barangku di kamar tidur. Tidak ada siapapun di kamar asrama seluas ini, kecuali tas-tas yang tidak ada pemiliknya. Sepertinya pemiliknya sedang keluar.

Akupun keluar sebentar untuk mencari makan dan berjalan-jalan di sekitar jalanan yang gelap dan dingin. Setelah makan, aku kembali ke hostel. Banyak sekali anjing yang menggonggong di sela perjalanan kembali menuju hostel. Sampailah aku kembali ke kamar. Masih tidak ada siapa-siapa. Akupun tidur.

---

Besok paginya aku terbangun. Kulihat ada beberapa orang tertidur di kasur sebelahku. Aku rasa mereka adalah pemilik tas yang ditinggal di kamar. Mereka pulang ketika aku tertidur. Aku masih berbaring di kasur dan tiba-tiba seorang perempuan bercelana pendek dan hanya memakai penutup dada berdiri di depan kasurku membuka jendela.

Di sebelahku ada seorang laki-laki dan mereka bersapa. Mereka menyapaku juga. Dia adalah Lena dan Roy, perempuan dari Austria dan pria dari Israel yang semalam habis party bersama dengan penghuni hostel di kamar lain. Mereka mengajakku turun ke bawah.

Di bawah, aku bertemu dengan beberapa penghuni hostel yang lain. Mengobrol soal apa yang terjadi semalam, menyetel beberapa musik, dan mendengarkan pendapat mereka soal Pai. Semua orang tampak bahagia berada disini. Teman sekamarku dari Israel, Roy, harus berpamitan kepadaku di hari pertama kami bertemu, karena dia akan pergi ke salah satu desa terpencil di utara dan mungkin akan kembali ke hostel ini nanti.

Ahh, sayang sekali. Aku harap aku bisa segera eksplor Pai hari itu. Cuma aku ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Hari itu aku hanya pergi mencari restoran terdekat, memakan Tom Yum, dan menyelesaikan semua pekerjaanku disana. Aku memutuskan untuk explor Pai besoknya dengan menyewa motor selama 2 hari.

---

Esok harinya, sekitar pukul 1 siang, aku mendapat motor sewaanku. Pai sebenarnya sangat kecil untuk dikelilingi. Hari ini aku berencana untuk explore daerah selatan, menuju tempat pemandian air panas dan ke salah satu batu canyon yang terkenal disana.

Salah satu keuntungan memiliki wajah yang hampir serupa dengan orang Thailand adalah terkadang aku bisa menyamar sebagai orang lokal. Walaupun terkadang juga cukup lelah menjelaskan kepada orang-orang yang selalu berbicara bahasa Thailand kepadaku. Setiap aku masuk ke daerah wisata, aku tidak pernah membayar. Aku hanya berkendara menggunakan motorku, melewati loket pembayaran dengan menundukan kepala tanda menyapa petugas. Petugas itu menganggapku orang lokal dan hanya tersenyum lalu membiarkan aku masuk. Sementara beberapa bule dijegat untuk membayar tiket.

Image

Image

Aku pulang ketika hari sudah gelap malam. Di hostel, aku bertemu dengan satu orang yang baru masuk. Dia adalah Michiel. Seorang pria dari Belanda. Kami mengobrol panjang di balkon hostel dan menghabiskan beberapa puntung rokok. Di obrolan itu, tercetus ide untuk mengunjungi salah satu gua terkenal di Pai yang bernama Nam Lod Cave. Kami pun berjanji untuk bangun jam 6 besok dan berangkat dari hostel sekitar pukul 7 pagi.

Besoknya kami berangkat menuju gua itu. Perjalanan yang menempuh sekitar 1 setengah jam dipenuhi dengan hawa yang benar-benar dingin, bahkan bagi pria yang sudah tinggal lama di eropa sekalipun. Aku dengan celana panjang dan jaket masih merasakan kedinginan. Sementara kulihat Michiel yang hanya menggunakan kaos dan celana pendek.

Sampailah kami di gua itu. Sayang sekali, dari 3 gua yang berada disana, hanya 1 yang dibuka. Padahal jika dibuka semua, aku dan Michiel bisa kayaking disana. Hanya saja kedua gua itu rusak karena hujan dan banjir. Di gua itu aku melihat banyak sekali kelelawar, ikan yang besar-besar, dan beberapa batu yang tercipta karena tetesan air gua dari atas yang akan terus meninggi.

Ada beberapa batu disana yang mirip seperti monyet, gigi manusia, popcorn, bahkan beberapa bagian tubuh manusia. Perjalanan explor gua ditempuh selama kurang lebih setengah jam dan diakhiri dengan memberi makan ikan yang ada disana.

Image

Setelah dari sana, Michiel mengajakku ke salah satu pura yang dia ingin kunjungi, Wat Pa Tam Wua namanya. Letaknya di Mae Hong Song, satu jam lebih jauh gua. Akupun mengiyakan.

Motoran bersama Michiel selalu seru. Di Belanda, dia memang memiliki motor gede yang sering dipakai turing. Begitupun aku. Kami sering bermain balap-balapan di tengah perjalanan dan menunjukan beberapa skill berkendara yang kami punya. Beberapa kali aku melepas tanganku dalam kecepatan tinggi dan melakukan belok tanpa tangan menyentuh stang motorku, sebuah trik yang tidak bisa dilakukan Michiel hahaha.

Setelah perjalanan panjang, sampailah kami di pura itu. Tempat yang luarrr biasaa indah. Pura ini terpencil sekali, berada di tengah pegunungan dan bukit. Tidak ada apapun yang kulihat selain bukit batu tinggi dan sawah. Lalu tiba-tiba muncul satu bangunan dengan arsitektur pura yang indah di tengahnya.

Image

Kami masuk kesana. Aku melihat beberapa orang hanya memakai kain putih, berbaris, berjalan mengikuti seorang biksu. Michiel menjelaskan kepadaku bahwa pura ini memang terkenal dengan "meditaion walk"-nya. Yaitu jalan setapak yang mana orang-orang hanya perlu berjalan berbaris dengan hening, tanpa suara, tanpa pikiran.

Michiel mengajakku ke satu bangunan besar yang ada di pura itu. Ketika pintu dibuka, terpampang patung Sang Budha besar berwarna emas yang sedang duduk. Aku dan Michiel duduk didepan patung itu. Sebagaimana orang Belanda pada umumnya, Michiel menjelaskan kepadaku bahwa dia adalah orang yang tidak percaya akan agama. Namun mempelajari beberapa kepercayaan di Asia menarik perhatiannya.

Setelah beberapa saat beristirahat dan mengobrol dibawah patung budha itu, kami keluar dan pergi ke kantin pura. Disana aku lihat beberapa orang sedang beristirahat dan makan.

Seorang pria tua yang baru saja menyelesaikan meditasinya berbagi kacang denganku ketika aku sedang duduk di meja kantin. Aku dan Michiel berbicara dengannya. Dia bercerita tentang pengalamannya mencari jati diri dan bermeditasi di beberapa tempat, termasuk Bali dan Thailand. Aku ingat bahwa vibes tenang seperti ini pernah kudapatkan di Ubud, Bali, dimana orang-orang melakukan meditasi disana. Orang itupun bercerita soal pengalamannya di Ubud dulu.

Memang, ketenangan adalah salah satu proses dalam pencarian jati diri. --

Kami harus pulang kembali ke Pai sebelum hari semakin gelap. Setelah obrolan yang cukup panjang, aku dan Michiel pun berpamitan dengan pria tua itu. Kami mendoakan pria tua itu sukses dengan meditasinya, dan pria tua itu mendoakan kami agar selalu sehat dan selamat.

Perjalanan pulang menempuh sekitar 2 jam 30 menit. Singkat cerita, sampailah kami kembali ke hostel. Baru saja parkir motor, tiba-tiba Roy sampai dan memarkirkan motornya. Aku menyapanya senang bisa bertemu dengannya lagi.

Sore itu, aku, Michiel, dan Roy memutuskan untuk berenang di kolam renang hostel. Selesai berenang, kami duduk sebentar di tepi kolam. Kami pun bertukar cerita tentang pengalaman kami. Aku dan Michiel bercerita tentang gua, dan pura. Roy bercerita pengalamannya berada di desa terpencil selama beberapa hari belakangan ini. Desa itu benar-benar terpencil. Bahkan tidak ada restoran sama sekali. Tuan rumah di tempat Roy tinggal yang memasakan makanan untuk Roy selama berada di desa itu.

Malam tiba, aku, Michiel, dan Roy berjanji untuk makan malam bersama. Namun, kami harus menunggu Roy mengambil pakaiannya di laundry. Ketika Roy pulang, kami harus menunggu lagi karena Roy bilang bahwa dia ingin berlari malam. Aku sempat bertanya kenapa dia berlari malam-malam. Dia bilang karena dia merasa harus berlari karena perasaan Anxiety nya setelah perjalanan panjang dan bertemu dengan banyak orang.

Aku dan Michiel berangkat duluan mencari makan sementara Roy akan menyusul setelah ia selesai berlari.

Aku dan Michiel pergi menuju Pai Walking Street, membeli beberapa Gyoza disana. Tiba-tiba, Michiel menunjuk ke salah satu kios yang ada disana. Kios yang kecil yang terbuat dari kayu, lukisan abstrak menghiasi dinding kios itu dengan beberapa alat musik tua. Kulihat beberapa tungku dari tanah liat yang dibakar menggunakan arang berada di depan kios itu. Tertulis, "Teh Ganja".

Michiel mengajakku untuk minum teh ganja disana. Aku terlalu takut untuk mencobanya dan Michiel selalu membujukku untuk melakukannya bersamanya. Karena kami sudah melakukan perjalanan panjang bersama sejauh ini.

Secara langsung, Michiel berbicara kepada perempuan penjaga kios itu.

"2 glass ganja tea, please"

Aku membalas,

"No, only 1 glass for my friend"

Aku lihat ada seorang pria berjenggot dan berambut ikal sedang meminum teh itu dan dia berkata kepadaku,

"Don't worry, it's just a pure tea, just a regular tea. No effect."

Dia meyakinkanku bahwa itu hanya seperti teh murni dengan ekspresi yang bisa kulihat dengan jelas bahwa dia itu sedang mabok.

Michiel pun duduk dengan teh ganjanya. Sementara aku hanya duduk sambil melihat-lihat dan memfoto sekitar kios itu. Beberapa wanita juga mulai berkumpul dan menikmati teh ganja. Juga datanglah satu orang pria bertato full di badan dan beberapa di mukanya, duduk di depan kami. Pria itupun mengobrol panjang dengan Michiel.

Tidak sampai 15 menit, kulihat gelas teh ganja milik Michiel sudah habis terminum. 15 menit kemudian, kulihat beberapa wanita mulai berjoget dengan mengalir begitu saja menikmati efek dari teh ganja tersebut. Kulihat Michiel sudah mulai tertawa-tertawa sendiri dan berkata,

"I am super high right now"

Image

Aku merekam beberapa wanita yang sedang berjoget didepanku sementara Michiel menertawakan video itu tanpa alasan yang jelas. Dia tetap saja terus tertawa. Tak lama setelah itu, Roy akhirnya datang. Kami bertiga duduk disana sampai beberapa saat, melihat-lihat orang-orang disana yang sedang merasakan nikmatnya efek ganja itu dengan musik pianika dan gendang besar. Tak lama setelah itu, kamipun memutuskan untuk keluar dari kios itu dan mencari beberapa makanan lagi.

Kami membeli beberapa makanan lagi lalu pulang ke hostel. Sungguh hari yang sangat random dan aku menemukan beberapa mindset dan pengalaman baru.

---

Besoknya adalah hari terakhir aku, Michiel, dan Roy berada di hostel itu. Aku harus kembali ke Chiang Mai untuk melanjutkan perjalananku ke Vientiane, Laos. Roy akan pergi ke Bangkok lalu terbang ke Sri Lanka. Dan Michiel akan melanjutkan perjalanan ke Luang Prabang, Laos. Siang itu, aku berpamitan dengan mama, si pemilik hostel. Mama memelukku dan bilang bahwa dia sangat sedih karena aku harus checkout.

Aku juga berpamitan dengan Roy dan Michiel. Aku bilang, jika sewaktu-waktu mereka sedang berada di Indonesia untuk explore, aku akan menemuinya.