Aku ingin sedikit bercerita tentang segala hal menarik yang telah aku lakukan di 2 negara berbeda dalam seminggu, Prancis dan Spanyol.

Setelah sampai Amsterdam, aku langsung istirahat semalaman di Dutchies Hostel, jaraknya sekitar 15 menit berjalan kaki dari Stasiun teredekat, Stasiun Sloterdijk. Aku naik kereta Sprinter dari Bandara Schiphol kesana. Aku merasa sangat jet lag dan kurang tidur. Aku pergi ke tempat yang mana 5 jam lebih awal dari Jakarta dan aku mungkin hanya tidur sekitar 3 jam dari keseluruhan 24 jam perjalanan. Dan ketika sampai, waktu menunjukan sekitar jam 08.30 malam dan ternyata masih terang. Di musim panas, matahari tenggelam jam 9 malam di eropa.

img

Sebelum tidur, aku membeli makan malam, kebab istanbul seharga 9 euro di sebuah merchant turki. Sekitar jam 10 malam, kepalaku sudah oleng seperti mau pingsan secara tiba-tiba. Aku langsung tidur dan istirahat tidur selama 8 jam.

Aku bangun pagi dan langsung bersemangat pergi keluar melihat-lihat suasana pagi di hari senin. Banyak orang berlalu-lalang menggunakan sepedah. Ada yang berangkat kerja, ada yang berangkat sekolah, ada yang pergi belanja. Lucunya, disini polisi pun menggunakan sepeda. Aku membayangkan gimana kalau ada penjahat lalu mereka kejar-kejaran dengan polisi menggunakan sepeda sambil membunyikan klakson, "kring kring kring". Ahahahhah.

img

Setelah puas berjalan-jalan, aku pergi ke terminal karena aku segera pergi menuju Paris, Prancis. Waktu perjalanan sekitar 8 jam naik bus. 3 jam pertama, aku berhenti di Brussels, ibukota Belgia yang menjadi negara yang kulewati dalam perjalanan.

Aku sampai Paris sekitar jam 8 malam (atau sore ya? masih terang sekali soalnya). Ramai sekali di Paris. Event olahraga terbesar di dunia, Olympics baru saja selesai dan akan dilanjutkan dengan Paralympics minggu depan. Aku langsung berjalan menuju hostel menggunakan kereta metro paris seharga 4 euro per trip. Lagi-lagi, aku sampai di malam hari dan aku masih merasakan sisa jet-lag kemarin. Aku sempatkan makan dulu. Aku senang sekali ternyata ada restoran madinah di dekat hostel yang menyediakan nasi. Setelah itu aku langsung tidur.

Besoknya, aku sarapan dan bekerja terlebih dahulu. Ketika makan di hostel, aku berkenalan dengan seseorang dari Australia yang punya nama jawa, Indra. Jam 12 siang, aku berangkat ke kereta lagi, menuju tempat yang sepanjang perjalanan kesana aku sangat gugup, Menara Eiffel. Aku janjian dengan Indra untuk bertemu di sana nanti.

Aku sampai stasiun terdekat dari menara dan aku keluar menuju jalan. Menara Eiffel belum menunjukan puncaknya di langit. Aku benar-benar degdegan. Aku teruskan berjalan sekitar 5 menit dan tiba-tiba, aku melihat badan dan puncak Menara Eiffel dari kejauhan. Disitu mataku berkaca-kaca dan jantungku berdegup cepat. Rasanya seperti mimpi. Ini ya sebuah simbol sejarah eropa. Ini ya menara yang satu dunia tau. Ini ya menara dengan banyak orang besar di masa lalu dan masa sekarang pernah menginjakan kakinya di tanah ini.

img

Aku mengambil beberapa gambar, dan menelepon video keluarga di rumah, untuk menunjukan kalau aku di Menara Eiffel. Responnya, semuanya kaget ahahahha. Mereka memang tidak ada yang tahu rencanaku, taunya cuma aku ada di Belanda selama 3 minggu.

Aku terus berjalan menuju jembatan yang aku dan Indra janjikan. Disana aku bertemu dengannya, dan tepat disini, tempat paling pas untuk melihat keseluruhan Menara Eiffel dari depan. Mataku masih berkaca-kaca melihat menara ini dari jembatan. Aku dan Indra berkeliling melewati sungai di jembatan itu dan kami mengambil beberapa foto bersama.

img

Tak lama dari itu, kami berencana untuk melihat menara lebih dekat dari dalam. Seperti kata seorang teman, aku tidak bisa dibilang pernah berada di area suatu tempat sampai kamu menyentuhkan kulitmu ke tempat tersebut. Aku akan menyentuhkan tanganku ke menara ini.

Akupun berada di kolong menara. Ini lebih besar dan lebih tinggi dari yang kubayangkan. Banyak orang berlalu-lalang disini. Spontan aku berkata, "THIS IS HUGE!!".

"Yes, this is really huge". Terdengar seseorang membalas omongan spontanku. Seorang pria gemuk yang aku bisa dengar sekali logat british yang sangat kental. Kamipun berkenalan. Namanya Caleb, dari Inggris. Kami ngobrol banyak hal mengenai menara ini. Dari situ, secara resmi grup kami menjadi 3 orang, aku, Indra, dan Caleb.

Melihat menara ini dari bawah sudah memuaskan hatiku. Sampai Indra mencetuskan sebuah ide. Memanjat menara sampai puncaknya.

img

Aku langsung mengiyakannya. Terlebih lagi, untuk membuktikan aku sudah berada di suatu tempat, aku harus menyentuhkan kulitku ke tempat itu. Dalam hal ini, aku harus menyentuh bagian pembangun Menara Eiffel. Aku bersama Caleb dan Indra masuk ke ruang kaki menara. Tangga demi tangga kami lewati. Panjang sekali, akupun sampai ngos-ngosan. Tidak pernah terbayangkan aku yang biasanya mendaki gunung di Indonesia, sekarang mendaki Menara Eiffel di Paris ahahhahaha.

Tangga tersebut menghubungkan kami ke lantai 1, kemudian ke lantai 2. Aku baru tahu, kalau di setiap lantai menara ada kafe mewah dan tempat jual souvenir. Kami bertiga menyempatkan diri untuk istirahat di kafe dari tiap lantai yang ada. Membeli kue dan air yang mahal sekali harganya.

Dari lantai 2, tidak ada tangga menuju puncak. Tetapi ada lift yang disediakan petugas. Sayangnya, tiba-tiba aku ada meeting karena sebenarnya saat itu adalah jam kerjaku. Caleb dan Indra akhirnya naik duluan dan aku menunggu di lantai 2, berharap mereka masih di atas setelah aku selesai meeting nanti.

Sekitar setengah jam, meeting selesai. Namun Caleb dan Indra sudah turun dari menara. Akupun akhirnya naik sendirian. Kami berjanjian untuk bertemu lagi di Arc de Triomphe, jaraknya lumayan jauh dari Eiffel. Musti naik kereta sekitar 15 menit.

Aku masuk lift, berdiri disana, naik sekitar beberapa ratus meter vertikal. Lift dibuka, dan wahh..

Aku melihat seluruh kota Paris di puncak Menara Eiffel ini. Perasaannya sama persis ketika aku berada di Tokyo Skytree di Jepang bulan Februari 2022.

Aku menyentuh tiap sisi dari puncak menara ini, dan mencium aromanya.

img

Di atasnya, ada sebuah ruangan kecil yang mana dulunya dipakai oleh sang arsitek menara, Gustave Eiffel. Namun ruangan itu sekarang sudah ditutup dan hanya ada sebuah patung realis untuk memperingati momen ketika menara itu dibangun.

img

Setelah puas berada di puncak, akupun turun kembali menginjak tanah. Sampai dibawah, kulihat lagi bangunan ini. Tinggi sekali. Aku masih tidak percaya aku ada disini dan tadi aku berada di atas sana.

img

Seperti yang dijanjikan, aku bertemu kembali dengan Caleb dan Indra di Arc de Triomphe. Sebuah monumen kemenangan yang paling terkenal di Prancis. Sebuah monumen yang dibangun atas perintah Kaisar Napoleon Bonaparte atas kemenangannya dalam Perang Austerlitz di awal abad 19. Di bawah monumen itu ada makam untuk mengenang jasa prajurit yang mati pada perang dunia I.

img

Setelah dari sana, kami mencari makan di salah satu bar terdekat. Ahh, aku benar-benar kelaparan sejak siang tadi. Kami duduk santai dan mengobrol di bar itu sambil menikmati kentang goreng dan burger dengan porsi yang sangatt besar. Di bar itu, kami berencana untuk mengunjungi suatu gereja di atas bukit. Tempat yang sempurna untuk melihat matahari tenggelam dengan pemandangan kota Paris.

Selesai dari bar, kami memutuskan untuk berjalan ke bukit itu. Aku sering tertawa melihat Caleb dengan badan gemuknya, ngos-ngosan mendaki bukit. Aku sempatkan merekam ekspresinya dan dia mengacungkan jari tengah ke kamera ahahhahah.

Kami berjalan sekitar 20 menit dan akhirnya kami sampai di gereja yang dimaksud, Montmartre.

Kami kurang beruntung, karena ketika kami sampai sana, cuaca mendung dan cukup ramai disana. Meski begitu, mendaki ke gereja Montmartre adalah salah satu wishlistku yang terpenuhi.

img

Setelah dari sana, aku benar-benar kelelahan. Memang itu adalah sunset, tapi sebenarnya sudah jam 9 malam. Kemudian kami berpisah disana. Caleb akan kembali ke hotelnya, aku dan Indra kembali ke hostel. Indra akan melanjutkan perjalanannya besok ke selatan Prancis. Begitupun juga Caleb. Entah kapan kami akan bertemu lagi tapi di titik moment itu, kami berpamitan.

Aku kembali ke hostel, mandi dan langsung tidur. Sementara Indra, pergi ke club dan berpesta. Anak itu memang tidak ada lelah-lelahnya.

---

Besoknya aku memulai hari sedikit agak lambat. Sarapan di hostel, melakukan beberapa pekerjaan dan meeting. Hari itu aku berencana pergi ke salah satu museum seni dunia yang ada di Paris, Musee du Louvre. Sebuah museum seluas 6 hektar yang berisi lukisan, barang antik, dan patung dari zaman sebelum masehi. Semua koleksi itu berada di bangunan yang dibangun di abad 18 ini. Yang paling terkenal dari museum ini adalah sebuah mahakarya dari Leonardo da Vinci, lukisan Monalisa yang asli dan autentik terpajang disini. Aku berencana untuk melihatnya.

Sekitar jam 11 pagi aku pergi kesana sendiri menggunakan kereta metro. Beberapa stasiun tutup karena even paralympic jadi aku harus paham dan jeli dimana aku harus turun ataupun transit. Sampailah aku di lokasi tersebut.

Impresi pertamaku melihatnya, wahh bangunan ini benar-benar sangat megah. Seperti istana. Mungkin memang dulunya adalah istana.

Aku sampai di satu bangunan ikonik dari museum ini, sebuah kaca segitiga yang berdiri tegak, pintu masuk museum.

img

Aku masuk ke dalam museum itu. Dari pintu masuknya sudah terasa megah. Jujur saja, yang pertama aku ingin lihat adalah the famous Monalisa dan patung Venus de Milo. Jadi setelah melihat itu, aku tidak akan kepikiran itu lagi ketika berjalan-jalan.

Ada tanda arah bagi pengunjung yang ingin melihat Monalisa, seperti petugas museum tau tujuan sebagian besar pengunjung museum disini. Aku terus mengikuti tanda itu. Jujur, semakin berjalan mengikuti tanda itu, aku semakin degdegan. Sama seperti ketika aku melihat Menara Eiffel. Sepertinya perasaan ini akan selalu terjadi ketika aku mengunjungi tempat bersejarah atau tempat paling terkenal di dunia.

Sampailah aku di sebuah ruangan, ramai orang di dalamnya. Dari kejauhan aku melihatnya. Lukisan Monalisa terpampang di dinding yang dilapisi kaca anti peluru setebal 4cm. Lagi-lagi, mataku berkaca-kaca. Jadi ini karya seni yang paling berharga. Ukurannya lebih kecil daripada yang kubayangkan sebelumnya.

Aku memperhatikannya dan sempat mengambil beberapa foto untuk dokumentasi.

img

Setelah itu, aku pergi ke area patung. Aku melihat banyak sekali patung dari zaman masa keemasan Yunani di zaman sebelum masehi. Patung Yunani dan Romawi yang terbuat dari marmer dengan ciri khas telanjang dan kain transparan yang dulu ada di mata pelajaran sekolahku kini kulihat secara langsung. Dan akhirnya kutemukan juga yang kucari, Venus de Milo.

img

Patung ini masih menjadi misteri siapa pembuatnya. Namun patung ini diperkirakan dibuat antara tahun 140 - 80 sebelum masehi. Aku memperhatikannya dengan seksama. Membayangkan rasanya menjadi saksi bisu. Seperti sudah berapa banyak orang yang berada di depan patung ini? Seandainya patung ini hidup, dia sudah melihat jauh lebih banyak hal daripada diriku.

Aku berjalan mengelilingi sekitar museum itu. Setelah berjam-jam berada di dalam, aku memutuskan untuk keluar dan pergi ke tempat lain. Perjalanan keluar museum inipun memakan waktu yang lama, lebih dari sejam. Karena ketika mengikuti arah keluar, mataku selalu tertuju pada benda atau lukisan yang sangat mewah dan menarik.

Sampai keluar, aku sangat kelaparan. Badanku sudah menginginkan nasi, karena beberapa hari belakangan ini aku selalu makan roti dan gandum. Untungnya ada restoran jepang yang mana aku bisa pesan sushi dan rice bowl disana walau harga sekali makan sampai 700rb rupiah :'. Mahal sekaliiiii..

Setelah itu aku berjalan ke arah Notre Dam. Kulihat matahari mulai memerah menuju tenggelam, tepat disebelah pucuk Menara Eiffel dari kejauhan. Aku sempatkan untuk beristirahat disini sampai matahari tenggelam. Lalu tiba-tiba.... Wushhhhhh....

Sebuah helikopter dan pesawat jet dengan asap berwarna bendera Prancis terbang menghiasi langit. Pertanda bahwa pembukaan event paralympic telah dimulai. Aku habiskan sore itu duduk di sebelah kanal Notre Dam, melihat perahu berlalu-lalang, melihat matahari yang akhirnya tenggelam tepat di sebelah Menara Eiffel, hingga malam tiba.

Sudah hampir tengah malam, waktu yang sempurna untuk kembali ke Menara Eiffel. Ya, hari ini adalah malam terakhirku berada di Paris. Aku ingin menutupnya dengan melihat Menara Eiffel dengan lampu kelap-kelip yang terkenal itu. Aku sampai di jembatan yang sama ketika aku bersama Indra bertemu di depan menara. Menyeberang sedikit melewati kanal, aku mendapatkan spot foto yang bagus untuk Menara Eiffel ketika malam. Di malam itu aku akhirnya merasakan kenapa kota ini dijuluki kota yang romantis.

img

Sampai sekitar jam 12 malam, pertanda penutup hari, aku pulang kembali ke hostel. Aku sangat kelelahan namun pula sangat senang. Persiapan untuk beres-beres dan checkout hotel besok. Akupun segera pergi tidur.

---

Hari esok tiba. Aku mengemas barangku dan checkout dari hostel. Aku masih sangat kelelahan dan mengantuk. Jadi setelah keluar kamar, aku sempat ketiduran di lobby hostel sambil menunggu keberangkatan pesawat. Ya, aku akan pergi terus ke selatan, dan tujuan setelah Paris adalah Madrid, Spanyol.

Ada kisah unik kenapa aku akhirnya ke Madrid. Awalnya aku ingin ke Belgia, kembali ke arah Belanda karena setelah itu aku harus berada di Belanda. Namun aku juga ingin terus menjelajahi bagian selatan sampai aku puas. Alhasil aku sempat mencantumkan Barcellona, Spanyol ke dalam list. Aku sempat bimbang apakah aku harus pergi ke Barcellona dengan pantainya, atau Madrid dengan sejarahnya.

Lalu tiba-tiba ketika aku memposting fotoku di Paris, seorang teman lama membalas, "Come to Madrid!!". Kebetulan sekali. Dia adalah Khai, teman yang kutemui di Bali dan Jakarta. Aku mengenalnya karena dia dulunya adalah mantan pacar dari temanku. Dia sempat bekerja di Kedutaan Besar Peru di Indonesia. Sekarang dia bekerja di Kedutaan Besar Indonesia di Madrid.

Tanpa pikir panjang, aku langsung mengubah seluruh rencana dan aku pergi ke Madrid, Spanyol. Setelah bangun dari istirahat, aku mengemas barangku dan membawa semuanya ke Bandara.

Aku terbang dari Paris ke Madrid menggunakan Transavia, sebuah maskapai murah di eropa. Namun bisa kubilang ini adalah pengalaman terbang yang paling menegangkan untukku. Semua penumpang penuh dengan orang spanyol. Dan karena harganya sangat murah, orang-orang yang naik pesawat terlalu bar-bar dan tidak taat aturan. Suasanya berisik seperti di angkot, dan banyak orang yang tidak mau menggunakan sabuk pengaman. Lalu ada anak kecil yang bukannya duduk manis, tetapi malah berdiri diatas bangku ketika sedang turbulance. Pesawatnya juga kecil dan ketika turbulance sangat berasa. Sempat di suatu moment semuanya teriak panik ketika pesawat tiba-tiba mendadak terdorong angin kekiri.

Untungnya, aku sampai dengan selamat di Madrid. Bandara internasional ini merupakan bandara terbesar ke-3 di dunia. Besar sekali. Sampai pesawat yang kunaiki masih harus berjalan di darat sekitar 10 menit untuk sampai ke terminal. Aku sampai sekitar tengah malam. Aku menghubungi Khai karena hari ini aku akan menginap di apartemennya. Dia baik sekali. Dia bahkan menyediakan kasur untukku yang dia pinjam dari kantor kedutaan.

Setelah perjalanan panjang dari terminal bandara dan stasiun kereta, aku sampai di stasiun terdekat dari apartemen Khai sekitar pukul 2 pagi. Dia menungguku di pinggir jalan ketika aku mengabari kalau aku sudah dekat. Aku sampai dan kami bertemu disana. Dia menjelaskan kepadaku tentang bagian-bagian yang ada di apartemen seperti dapur, kamar mandi, ruang cuci, makanan, dan lain-lain. Kami ngobrol tidak terlalu lama malam itu, karena Khai harus bekerja besok pagi. Kami pun tertidur. Malam pertamaku tidur di Madrid.

Esok harinya, aku terbangun dan Khai sudah tidak lagi berada di kasurnya. Aku ingin menjelajah sekitar kota ini, tetapi aku masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Sekitar agak siang, aku berangkat ke Masjid Islamic Center Madrid, sebuah masjid agung yang cukup terkenal disana. Jam 14.30 adalah waktu shalat jum'at disana.

Waktu berjalan ke masjid sekitar 30 menit dan bodohnya, sekitar 20 menit berjalan, aku baru sadar kalau aku memakai celana pendek dan lupa membawa sarung. Aku pikir, tak apalah, pasti di masjid menyediakan sarung seperti di Indonesia. Sayangnya, ini adalah Spanyol. Aku masuk ke dalam masjid dan aku meminta sarung dan petugas bilang, "tidak ada". Aku agak panik dan meminta tolong mungkin bisa dicarikan dulu. Agak sulit berkomunikasi dengannya karena dia cuma bisa bahasa Spanyol. Aku bicara dengannya dengan bahasa isyarat. Petugas tersebut kemudian memanggil seseorang dan tangannya menyiratkan bahwa aku harus menunggu sekitar 5 menit. Aku menunggu disana sekitar 10 menit dan kemudian orang tersebut datang dan membawakan aku handuk pas se-lutut untuk shalat 😵‍💫😵‍💫.

Yaa.. Aku tidak bisa shalat dengan itu. Jadi aku memberikannya kembali dan pulang. Aku melewatkan shalat jum'at disana.

Sehabis dari masjid, akupun kembali ke apartemen dan beristirahat sebentar. Lalu aku berencana untuk mengunjungi stadion yang paling terkenal, Santiago Bernabeu Stadium, yang mana merupakan markas dari club paling terkenal di dunia, Real Madrid.

img

img

Aku tidak terlalu mengikuti bola, tetapi waktu aku kecil, aku suka sekali bermain bola dan Real Madrid adalah club favoritku karena di zaman itu, masih ada Cristiano Ronaldo, Benzema, Bale, di dalamnya. Masa keemasan Real Madrid. Rasanya akan sangat spesial jika aku masih menyukai club itu. Sekarang aku ada di stadion ini, melihat begitu besar bangunan ini. Aku kemudian masuk ke salah satu area di stadion yang terbuka. Itu adalah area toko resmi yang menjual merchandice club. Aku sangat tertarik dengan jaket putih berlogo Real Madrid. Aku membelinya walau harganya 60 euro (sekitar 1 juta rupiah). Yaa.. Pikirku kapan lagi aku kesini.

Setelah itu aku pulang sembari memakai jaket baru tersebut. Mampir ke salah satu restoran China, disana mereka menjual nasi. Pegawainya begitu ramah mengajakku ngobrol. Mereka kira aku dari Filipina. Ya, memang wajahnya agak mirip sih dengan Indonesia.

Aku pun pulang kembali ke apartemen. Khai mengabariku kalau ia akan menginap di kantor kedutaan karena mereka habis minum beer disana. Jadi malam itu aku tidur sendirian di apartemen.

---

Esok harinya, Khai pulang bersama temannya yang dari Indonesia juga, namanya Sabatina. Mereka berdua baik sekali. Mereka memasak makanan untukku dan kami makan bersama disana. Ada telur, bubur kentang dengan susu, yogurt, dan ayam. Mereka adalah orang Indonesia yang sudah merantau cukup lama di Spanyol, sampai mereka sudah bisa bahasa Spanyol yang menurutku sangat fasih, meski bagi mereka levelnya masih menengah.

Selesai makan, mereka mengajakku keliling pusat spanyol.

Pertama, aku mengunjungi kilometer 0 di Madrid. Kota Madrid berada di pusat Spanyol. Titik km 0 ini bagi orang Spanyol adalah titik paling tengah dari Spanyol yang mana jarak ke perbatasan manapun adalah sama.

img

img

Setelah itu aku pergi ke Plaza Mayor, Palace, Gereja, dan masih banyak lagi.

img img img

Di satu momen kami menikmati pemain biola jalanan yang menjual kaset rekaman pribadinya seharga 10 euro. Disana ia memainkan beberapa lagu indah yang aku kenal seperti River Flows in You, Canon in D, dan Memories, dengan pemandangan latar belakang istana dengan bendera Spanyol di atasnya.

img

Ketika hari sudah mulai gelap, kami pergi untuk makan malam di salah satu tempat yang khas di Madrid. Ah, aku lupa nama tempatnya, namun konsepnya sangat menarik. Kami hanya harus bayar 4 euro per orang untuk minum, lalu kami diberikan berbagai makanan seperti kentang dan roti gratis sepuasnya, dengan syarat kami harus makan sambil berdiri di meja bundar sampai capek berdiri ataupun sudah kenyang.

Setelah puas makan dan mengobrol, kami berjalan di sebuah jalanan yang penuh persimpangan. Ya, semua hal disini adalah menyimpang ahahhaa.

"Ihh.. Botiii!!!", saut kami bertiga melihat sepasang kekasih sesama pria yang sedang berpegangan pipi dengan romantisnya di pinggir jalan trotoar. Ada juga club khusus gay disana yang isinya bapak-bapak tua dengan pakaian anehnya. Aku juga melihat meja makan malam romantis yang disana duduk seorang pria tua dengan seorang pria muda. Sabatina melihat itu langsung berseru, "aduuhh, peliharaan sugar daddy (gay)". Aku juga melihat perempuan yang berciuman dengan sesama perempuan disana.

Ketika bendera pelangi dikibarkan dimana-mana, melihat sepasang kekasih sesama jenis bergandengan tangan. Aku, Khai, dan Sabatina sebagai orang Indonesia yang tidak terbiasa dengan hal itu cuma bisa kegelian, tertawa, dan mengosip di depan muka mereka dengan bahasa indonesia yang mana aku pikir lucu juga karena mereka tidak bisa mengerti apa yang kami bicarakan.

Setelah beberapa ratus meter kami berjalan, kami keluar dari jalanan penyimpangan tersebut. Khai mengajakku ke salah satu tempat ikonik di Madrid yang katanya banyak orang berfoto disana. Sebuah gedung bertuliskan "Schweppes". Foto disitu bagi turis rasanya seperti berfoto didepan tanda "Jalan Malioboro" di Yogyakarta. Namun aku kurang paham kenapa gedung promosi bertuliskan "Schweppes" ini menjadi landmark untuk para turis. Sebagai turis, aku nurut aja dan berfoto di sana.

img

Setelah dari sana, kami pun kembali ke arah 0 km untuk menuju stasiun untuk pulang. Di area 0 km, ada banyak sekali pertunjukan malam seperti pantomim, pemusik jalanan, penjual baju KW, dan lain-lain. Namun ada satu hal yang menarik perhatianku karena ramai sekali orang disana. Pertunjukan yang selalu ramai di Madrid yang menurutku sangat tidak masuk akal. Hanya mencari sukarelawan yang mau membayar uang seikhlasnya supaya bisa berjoget secara seksual bersama laki-laki berotot setengah telanjang.

img

Kami tidak lama berada di sana. Kamipun masuk ke stasiun dan pulang ke rumah masing-masing.

---

Esok harinya, Khai mengajakku ke event yang diadakan oleh KBRI. Itu adalah event lomba dalam memperingati kemerdekaan indonesia ke 79 yang akan dirayakan di taman Retiro, Madrid. Aku akan bertemu dengan banyak orang indonesia disana. Khai bilang acaranya dirayakan telat jauh dari tanggal 17 agustus dan ini sudah awal september dikarenakan rencana awalnya, wakil presiden republik indonesia, pak Maruf Amin akan hadir, tapi ternyata batal hadir. Oiya, hari itu juga akan menjadi hari terakhirku di Spanyol dan kembali ke Amsterdam untuk bekerja ke kantor.

Dari rumah, aku mengemas semua bajuku yang sudah dicuci dan dijemur. Semua barang kumasukkan ke koper dan tas lalu akupun pergi ke stasiun dan sampai ke Retiro. Wah, ramai sekali. Pakaian dan balon tema merah-putih. Banyak sekali orang indonesia disana dan semuanya ramah. Mereka mengajakku berkenalan. Akupun memperkenalkan diri dan bercerita bagaimana aku bisa sampai disini. Aku menyadari, dari orang yang bekerja di kedutaan tersebut semuanya berpendidikan minimal S2, membuatku semakin bersemangat untuk mengejar pendidikan lebih tinggi lagi.

img

Aku sebenarnya diajak untuk mengikuti seluruh perlombaan. Namun sayang, waktunya tidak akan pas untuk mengejar penerbanganku ke Amsterdam. Aku hanya bisa mampir dan berkenalan sebentar. Meski begitu, senang rassanya bertemu banyak orang indonesia yang pintar, berpendidiakn, dan berkarir di eropa. Aku belajar banyak sekali hal dari mereka.

Ketika hendak pergi ke bandara, aku berpamitan dengan semuanya, termasuk Khai dan Sabatina disana. Semua orang di perantauan yang sudah sangat baik kepadaku. Pengalaman seperti ini adalah do'a yang terkabul bagiku. Pengalaman minggu pertama di Prancis dan Spanyol yang sangat berkesan. Semoga selama seminggu di Belanda nanti aku akan mendapat banyak pengalaman yang berharga.