Aku seharusnya tidur di atas bilik kasur kapal menuju Sumatra ini. Suara ngorok dari orang orang disini sangat menganggu. Memantik segala pikiran pikiran yang seharusnya sudah dibawah mimpi.

3 tahun berkelana membawaku ke berbagai macam tempat, dengan berbagai macam perbedaan kultur dan pikiran. Dunia memang benar benar sekumpulan gelembung komunitas yang bermacam macam warnanya, yang mana dari semua gelembung tersebut tidak sepatutnya bersinggungan. Komunis, kapitalis, kaya, miskin, barat, timur, yahudi, hingga taoisme. Namun aku sadar melihat dan masuknya aku ke gelembung gelembung itu menyadarkanku arti besar dari toleransi.

Aku melompat dari satu gelembung ke gelembung lain dan menyadari banyak sekali perbedaan. Namun satu satunya persamaan adalah: hidup tanpa sebuah prinsip, diri ini akan selalu salah, walaupun bahkan ketika tidak melakukan apapun.

Ketika aku berada di rumah keluarga seorang teman muslim di Sukabumi, sebuah peringatan “kamu tau seberapa besar dosanya meninggalkan shalat untuk orang muslim?” terdengar di gelembung itu. Juga sebuah pandangan aneh soal “kamu dan orang muslim aneh sekali melarang diri sendiri memakan babi” ketika aku makan bersama keluarga seorang teman tionghoa.

Juga di Bali 2 tahun lalu, dan lalu tidaklah normal untukku tanpa meminum minuman alkohol yang selalu kuanggap sebagai dosa besar.

Sejauh ini aku menjadikan diriku air yang bisa sangat fleksibel menyesuaikan wadah sekitarnya. Menjadikan aku bisa membaur dimanapun. Aku harus memahami bahwa aku tidak bisa mengharapkan toleransi untukku dari orang yang berada di gelembung yang terisolasi itu. Akulah yang selalu harus menjadi air. Perasaan bersalah ini melatih mentalku. Untuk belajar lebih banyak, aku memang harus membiarkan diri ini terlihat bodoh. Sampai pada akhirnya aku harap ini membawaku untuk bisa memutuskan prinsip hidup yang adalah kebenaran.