Taipei Masih Memberiku Tempat Untuk Tinggal 🇹🇼
Taipei, 6 Juni 2026 23:50.
Saat ini aku sedang berada di Al Hadi Taiwan Islamic School. Aku berada di ruang kelas yang gelap, rebahan diatas kasur lipat dengan gelengan kipas angin dan satu lampu menyala di area kamar mandi.
Weekend ini, hostel di Taipei sedang mahal-mahalnya. Aku dan Emy sudah kewalahan dan memutuskan untuk pergi ke masjid dan meminta izin untuk tinggal disana selama satu malam. Rencananya, Emy akan pulang ke rumahnya di New Taipei dan aku akan bermalam di masjid sampai weekend selesai dan harga kembali normal.
Sampailah aku di Masjid Besar Taipei. Banyak sekali orang Indonesia disana. Di depan masjid, terdapat stan berisi jualan makanan seperti pecel, sate, mie ayam, bakso, dan lainnya. Logat dan bahasa jawa juga terdengar disini. Bahkan, muadzin pada waktu zuhur ini adalah orang Indonesia. Aku berniat untuk meminta izin kepadanya untuk tinggal di masjid ini setelah shalat zuhur selesai.
Aku duduk disana diantara rombongan orang yang sedang shalat qobliyah. Tak lama kemudian, seorang pria tua menghampiriku dan memperkenalkan dirinya sendiri kepadaku. Namanya Abdul, seorang pria India yang berusia 51 tahun. Dia bertanya darimana aku berasal, apa yang kulakukan disini, dan apa yang aku cari.
Aku bercerita singkat bahwa aku adalah seorang traveler yang sedang mencari tempat tinggal. Lalu dia berkata dan berinisiatif untuk mengajakku ke sekolahnya, di Al Hadi Islamic School, sebuah sekolah anak kecil setara TK dan SD. Katanya, disana aku bisa tidur secara gratis. Aku senang sekali.
Shalatpun dimulai. Sampailah saat dimana aku menghampiri Sir Abdul kembali di belakang shaf. Dia berkata, seseorang akan kembali kesini dan menjemputku. Akupun meminta nomor whatsapp nya.
Tapi tak lama dari itu, Emy menghampiriku. Aku berkata kepada Sir Abdul bahwa Emy adalah travel buddy ku. Dia bukan muslim, tapi dia sedang belajar soal islam. Dan sejak itu, segera ia memanggil salah seorang ustad dari Malaysia, dan mengundang kami semua untuk duduk melingkar, berdiskusi soal Islam.
Kami membahas dan menyampaikan pendapat satu sama lain. Yang tadinya semua orang sibuk, tapi tak terasa akhirnya kami berdiskusi selama 2 jam di lingkaran itu.
Seorang ustad dari Malaysia memberi Emy buku yag ia tulis sendiri, berjudul “Islam Question and Answer”. Ustad ini adalah seorang guru dan juga mualaf dari kristen 40 tahun yang lalu.
Setelahnya, aku dikirim alamat ke sekolah itu, Al Hadi Taiwan Islamic School. Ia akan pergi mengajar di tempat yang lumayan jauh, setara 2 jam perjalanan menggunakan mobil. Namun jika ia sudah kembali di jam 10 malam, aku bisa langsung ke sekolah itu untuk menginap.
-
Kamipun mengakhiri segala diskusi. Aku dan Emy melanjutkan perjalanan ke sebuah kafe untuk menyelesaikan pekerjaan sebentar.
Setelah dari kafe itu, Emy mengajakku untuk kerumah La Ma, ibu dari Liao Jing, sahabatnya dari kecil.
Aku sendiri sudah bertemu Liao Jing di Starbucks sebelumnya. La Ma sendiri bekerja di sebuah kedai teh mewah berjarak 10 menit berjalan kaki. Di kedai itu, aku bertemu dengan banyak orang baru.
Ada seorang content creator yang sering mendokumentasikan perjalanan spiritualnya. Dialah Ray. Orang yang sangat ekstrovert dan friendly. Ada juga satu orang guru yang aku lupa nama mandarinnya. Dia adalah seorang kelana yang juga pada perjumpaan teman baru dan duduk di kedai ini.
Guru ini berbicara soal teh yang pernah ia nikmati di dataran tinggi tibet. Merasa relate, aku pun mencoba mendengarkan dengan seksama walaupun mereka berbicara dengan bahasa mandarin. Tapi sesekali, guru ini berbicara bahasa inggris dengan terbata-bata untuk memasukanku ke dalam percakapan.
Teh adalah sebuah budaya yang sangat rekat terutama untuk orang Tionghoa. Teh adalah tentang proses, perasaan, komunikasi implisit, dan kewaskitaan.
Aku bertanya kepada La Ma. "I don't see clock around here. How did you know how long to wait". La Ma membalas dalam bahasa mandarin sambil menunjuk ke dada nya. Aku mengerti, "dari hati".
Selesai dari pertemuan itu, kami pergi ke Ximending. Sebuah pusat perbelanjaan di Taipei yang sangat terkenal di seluruh dunia.
---
Waktu menunjukan hampir di waktu yang telah dijanjikan oleh pria India dari masjid kala zuhur itu. Aku segera berpisah dengan Emy dan pergi ke sekolah tersebut. 45 menit perjalanan menggunakan MRT, sampailah aku di depan gerbang sekolah itu. Sir Abdul dan seorang pria lain menyambutku. Dia bernama Abdullah.
Aku akan tidur di salah satu ruang kelas. Mereka sangat amat welcome dan memberiku segala panduan dan tour singkat di ruangan kelas ini.
Sebelum aku tidur, kami melakukan percakapan singkat. Mereka bertanya tentang latar belakangku dan bagaimana hidupku.
Jika menjadi seorang muslim, jadilah representasi yang baik. Menjadi seorang muslim bukan sebuah gelar, tapi sebuah anutan. Seorang umat dan ajaran sesungguhnya boleh jadi tidak selaras. Seperti sebuah negara beranut kapitalisme, atau komunisme. Negaranya sendiri? Belum pasti sepenuhnya. Tapi tujuan adalah yang membuat manusia tetap hidup. Maka jadilah representasi yang baik.