Takut
Sebenernya nggak tahu mau nulis apa. Di tulisan kali ini cuma sebagai tempat mencurahkan segala hal yang malam ini menjadi pikiran. Karena untuk saat ini, gak bisa bercerita ke siapa-siapa selain ke blog yang sebenernya juga gak ada pembacanya ini.
Hmm.. Apa ya...
Bingung, takut, dan selalu merasa bersalah sepanjang hari. Merasa diri ini gak pantes jadi pusat perhatian, gak pantes didengarkan, gak pantes bicara ke orang.
Pertama, bahwasanya jangan pernah berekspektasi bahwa seseorang akan merubah hidup diri sendiri. Di suatu malam di Kota Metro, sekitar 3 tahun lalu. Di kamar, dengan lampu temaram, rasa takut meledak, gelisah, dan merintih. Aku bertanya kepada entah siapa. "kapan ini semua akan berakhir? kapan rasa takut ini reda? kenapa tak ada satupun orang yang nyaman untukku merasa lemah? bahkan untuk sebuah kata: tenang, semua akan baik baik saja?"
Aku lama menunggu seseorang yang gak ada. Yang kuharap bisa jadi penenang, dan merubah diri ini. Sungguh pemikiran yang bodoh.
Entah dari mana, orang itu datang. Aku menyambutnya, merayakannya. Menjadikannya tempat mencurahkan rasa takut, tempat aku bisa terlihat lemah, dan sesekali untuk menjadi tidak tegar. Begitupun sebaliknya, aku dengan senang hati menjadi tempat menampung semua keluh kesahnya setiap hari.
Dan teringat sebuah perkataan yang sering aku acuhkan. "Menggantungkan kebahagiaan kepada seseorang akan berakibat kekecewaan". Sejak awal aku menunggu, aku seperti mencari tambang perhiasan yang aku kira adalah jalan keluar. Aku terbuai dan jatuh dalam keindahan. Sampai gak sadar bahwa aku semakin dalam, dan tidak peduli bagaimana caranya keluar.
Gak perlu mencari fakta bahwa aku yang salah. Tanpa diminta, aku sudah merasa bersalah setiap hari.
Segala hal yang masuk akal dan tidak masuk akal masuk ke pikiranku menjadi sebuah perkiraan yang gak ada habisnya. Otakku seakan akan selalu berbunyi "mungkin begini, mungkin begitu, bagaimana kalau, mengapa begini, kenapa dia...". Semua usaha baik itu gak ada artinya dimata nya. Lagian kenapa aku harus berharap?
"Ini karmaku. Aku harus introspeksi. Aku gak pantes. Aku terlalu baik. Aku salah"
atau
"Dia menganggap kebenaran di dunia yang luas ini hanya berdasarkan lingkungan kecilnya aja. Dia gak akan bertemu dengan yang lebih baik. Dia melakukan ini karena dia gak tau rasanya disakitin dan gak dihargain oleh orang yang bagi dia spesial"
Ahh.. Bagaimana caranya jadi egois? Bagaimana caranya jadi orang yang hanya melakukan sesuatu tanpa peduli dengan perasaan orang lain?
---
Hahahahahhah perpisahan. Kalau pisah mah pisah aja, kalau main-main mah main-main aja. Gak perlu bikin anak di pertengahan itu. Terlalu bahaya kalau gak punya ilmu. Seenggaknya anak itu gak berfikir bahwa semua persatuan itu bullshit. Gak ada satupun contoh yang bener. Anak itu mencoba merubahnya dengan berusaha menjadi orang paling baik yang pernah ada. Bahkan menjadi baik adalah sebuah tantangan.Segala usaha dia untuk membuat semua orang senang dan berharga, malah menjadikan mereka berbuat menyakitkan.
Entah anak itu yang salah karena terlalu berharap kebaikan akan dibalas kebaikan, atau orang lain yang salah.
Ah aku takut sama semua orang. Aku takut sama harapan. Aku takut sama pikiranku sendiri. Takut sama diri sendiri. Pergi jauh, nulis sebanyak ini, rasanya gak sepenuhnya hilang.
Aku cuma nulis ini karena takut. Aku berharap ini gak sampe berubah jadi unconscious relflect kayak beberapa waktu lalu. Ah aku benci banget saat-saat itu. Kenapa aku gak bisa mengontrol diri sendiri? Kenapa aku mikir terlalu banyak dan semua itu gak perlu? Semua orang salah! Semua nya harusnya gak gini! Loh, kenapa jadi salahku? Lu jadi baik atau buruk juga terserah! Agama, perilaku, orang, pikiran, reflek, sifat, adfrewegehsttfhdffbdsrq.